• home

SOP Budidaya Jagung Organik (SPO)

Jagung adalah salah satu tanaman pangan yang sangat penting keberadaanya, terutama di daerah yang menjadikan jagung sebagai bahan pangan Utama. Nah berikut ada tata cara (SOP) budidaya Jagung secara Organik Versi SPO.

Artikel, Dasar Organik, Organik, Panduan Budidaya, Pertanian Organik, Pestisida Organik, Pupuk Organik, ROMA, ROTAN, Sayuran Organik, Tips dan Trik, Jagung Organik
Perlakuan Lahan :
  1. Dua minggu sebelum lahan ditanami tebarkan dolomit 1 ton / Ha secara merata
  2. Masukan pupuk kandang (ayam/sapi/kambing) sebanyak 2-4 ton / Ha kemudian kocor diatasnya dengan ROTAN 3 + TRICHODERMA (dosis 1 liter Rotan 3 + 1 Liter Tricho + gula 1 kg + air 200 liter)
  3. Bajak lahan sedalam 20-30 cm dan biarkan selama 5 hari
  4. Kocor dengan ROMA+Bawang putih+Tembakau+Cabe rawit+Kluwih dengan dosis 1 liter + 50 liter air, biarkan selama 5 hari
  5. Buat parit setiap jarak 3m dengan kedalaman 20 cm untuk drainase

Perlakuan benih :
  1. Benih biji rendam dengan air panas (70 derajat) selama 5-10 menit kemudian tiriskan
  2. Rendam benih ke dalam larutan ROTAN 3 + TRICHODERMA + PGPR (dosis 10 ml Rotan+10 ml Trichoderma+PGPR 10 ml+gula 3 sendok+air 1 liter) selama 12 jam

Penanaman benih :
  1. Tugal / bual lobang sedalam 3-5 cm dengan jarak antar baris 70-75 cm dan jarak dalam baris 20-25 cm
  2. Masukan benih satu lobang 1 biji
  3. Tutup lobang dengan pupuk kandang yang sudah di fermentasi sebelumnya
  4. ( pupuk kandang 100 kg + dedak 5 kg + ROTAN ½ liter + TRICHODERMA ½ liter + gula ½ kg cair+air 10 liter kemudan di tutup rapat selama 14 hari)
  5. Kocor lobang dengan campuran Rotan 10 ml + Trichoderma 10 ml + PGPR 100 ml + Gula 1 ons + air 14 liter / 1 tangki

Pemupukan :
  1. 3 hari setelah tanam kocor dengan ROMA +++ (dosis 200 ml+air 14 liter)
  2. 7 hari setelah tanam kocor dengan POC Vegetatif + Tricho (dosis 200 ml+air 14 liter)
  3. 15 hari setelah tanam kocor dengan ROMA +++ (dosis 200 ml+air 14 liter)
  4. 21 hari setelah tanam kocor dengan POC Vegetatif + Tricho (dosis 200 ml+air 14 liter)
  5. 27 hari setelah tanam kocor dengan ROMA +++ (dosis 200 ml+air 14 liter)
  6. 35 hari setelah tanam kocor dengan POC Vegetatif (dosis 200 ml+air 14 liter)
  7. 40 hari setelah tanam kocor dengan ROMA +++ (dosis 200 ml+air 14 liter)
  8. 45 hari setelah tanam kocor dengan POC Generatif (dosis 200 ml+air 14 liter)
  9. 60 hari setelah tanam kocor dengan POC Generatif (dosis 200 ml+air 14 liter)
  10. 75 hari setelah tanam kocor dengan POC Generatif (dosis 200 ml+air 14 liter)

Catatan :
  • Dengan perlakuan di atas insyaallah penyakit bulai tidak terjadi
  • Perlakuan ROMA+++ disesuaikan keadaan, jika ada indikasi hama/penyakit lakukan penyemprotan dengan dosis 200 ml + 14 liter air

Moga berhasil !!

Sumber: https://www.facebook.com/groups/403183829800395/permalink/593478820770894/

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Cara mengambil Auxin dari Kacang Tanah

Auxin adalah senyawa yang dicirikan oleh kemampuannya dalam mendukung terjadinya perpanjangan sel (cell elongation) pada pucuk, dengan struktur kimia dicirikan oleh adanya Indole Ring.

Salah satu tanaman yang mengandung Auxin adalah kacang tanah. nah berikut adalah cara  mengambil Auxin dari Kacang Tanah.

Artikel, Cara Pembuatan, Dasar Organik, Kompos, Organik, Panduan Budidaya, Pertanian Organik, Pupuk Cair, Pupuk Organik, Tips dan Trik, Kacang Tanah, Auxin
By. Ayah Manjel Dech
  1. Ambil kacang tanah 1 ons, rendam dengan rotan selama 1-2 jam
  2. Tiriskan, kemudian simpan/tebar pada alas karung/handuk basah, selanjutnya tutup dengan plastik atau apa saja yg berwarna gelap dan jangan sekali kali terkena sinar matahari 
  3. Usahakan utuk tetap lembab selama sehari semalam, jika sudah keluar tunas akar/kecambah sepanjang 2-3 cm maka itu dah selesai
  4. Blender semuanya kemudian tambahkan air sebanyak 1 liter, biarkan selama 5-7 hari dalam keadaan tertutup

Dosis :
10 ml untuk air 1 liter, kocor pada tanaman (sayuran/horti) 100 ml per pohon
sebaiknya diaplikasikan pada pagi hari atau sore hari
Moga manfaat
Sumber: https://www.facebook.com/groups/403183829800395/permalink/591116111007165/

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Cara membuat Pupuk P (Posphat) dari Daun Kering

Pupuk NPK biaanya di dapatkan dari pupuk pabrikan yang biasa dijual di toko-toko pertanian. nah taukan anda bahwa pupuk phospat bisa dibuat sendiri dengan bahan yang tentunya mudah didapat dan sangat murah? nah berikut adalah cara yang bisa dicoba:

Artikel, Cara Pembuatan, Dasar Organik, Pupuk Cair, Pupuk Organik, Tips dan Trik, Daun kEring, Pupuk Phospat
By. Ayah Manjel Dech
  1. Ambil sekarung daun-daun yg benar benar sudah kering karena jatuh dari pohon (wajib yg jatuh sendiri dari pohon), yang terbaik dari pohon2 jenis buah buahan dan berdaun agal lebar
  2. Remas remas sampai daun hancur kecil-kecil
  3. Masukan dalam drum/wadah apa saja kemudian beri air setinggi daun yang ada.
  4. Remas remas daun yg sudah ditambah air tersebut minimal 15 -30 menit
  5. Tutup drum/wadah .. biarkan selama 15 hari, usahakan setiap hari wadah di goyang goyangkan

Dosis :
1 liter + air 15 liter untuk kocor ke tanaman 2 minggu sekali
1 liter + urine 1 liter + sabut kelapa 1 liter jadi pupuk majemuk NPK yg cukup baik, dosis 1 gelas untuk 10 liter air
Moga manfaat

Sumber: https://www.facebook.com/groups/403183829800395/permalink/591125344339575/

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Tata Cara Budidaya (SOP) Melon Organik

Melon merupakan salah satu bahan konsumsi buah-buahan yang digemari masyarakat luas. Buah melon umumnya dikonsumsi sebagai buah segar untuk  mencuci mulut atau pelepas dahaga. Selain itu buah melon dijadikan pencampur minuman atau dibuat “juice”, bahkan dewasa ini buah melon mulai dijadikan bahan baku industri minuman.

Buah Organik, Cara Pembuatan, Hama dan Penyakit, Organik, Panduan Budidaya, Pertanian Organik, Pestisida Organik, Pupuk Cair, ROTAN, Tips dan Trik, Pupuk Organik, Melon Organik
Tanaman Melon
Melon merupakan salah satu jenis tanaman holtikultura yang semakin banyak diminati petani. Berbagai varietas telah dikembangkan, jenis melon berkembang baik bentuk buah, warna kulit buah, warna daging buah, maupun aroma dan citarasanya.

Berikut SOP Budidaya Melon Organik By. Ayah Manjel Dech (Solusi Petani Organik/SPO) 

PEMBENIHAN
  1. Benih direndam kedalam larutan ROTAN3 + PGPR selama 15 menit. Benih yang baik berada di dasar air, dan benih yang kurang baik akan mengapung di atas permukaan air.
  2. Kemudian benih disemaikan pada polybag, yang telah diisi tanah dan pupuk kandang yang dicampur dengan perbandingan 3:1. Benih disemaikan dalam posisi tegak dan ujung calon akarnya menghadap ke bawah. Atau disemaikan pada tempat penyemaian khusus
  3. Benih ditutup dengan campuran abu sekam dan tanah dengan perbandingan 2:1 yang telah disiapkan, agar tanaman dapat tumbuh dengan baik, tidak mudah rebah. Untuk merangsang perkecambahan benih dengan menciptakan suasana hangat maka tutuplah permukaan persemaian dengan karung goni basah. Apabila kecambah telah muncul kepermukaan media semai (pada hari ke-3 atau ke-4) maka karung goni dapat dibuka
  4. Bibit dipersemaian di siram setiap pagi hari. Mulai dari kecambah belum muncul sampai bibit muncul kepermukaan tanah. Untuk penyiraman digunakan tangki semprot. Saat menyemprot untuk penyiraman jangan terlalu kuat karena akan mengikis tanah media dan melemparkan benih atau kecambah keluar dari polibag. Apabila daun sejati keluar, penyiraman bibit baru dapat dilakukan embrat atau gembor. Saat cuaca panas, tanah pada polybag kering dan penyiraman perlu diulangi pada sore hari, jangan menyiram bibit tanaman pada siang hari karena akan menyebabkan air dan zat-zat makanan tidak dapat terserap akibatnya bibit menjadi kurus, kering dan layu
  5. Untuk pertumbuhan vegetatif bibit dapat dipacu dengan penyemprotan pupuk ROTAN3 + PGPR cukup dilakukan satu kali, yaitu pada saat umur bibit 7–9 HSS dengan konsentrasi 3-5 cc/liter. Pupuk akar tidak perlu ditambahkan selama pembibitan karena pupuk akar yang diberikan pada media semai telah mencukupi
  6. Pada masa pembibitan penyemprotan pesnab dilakukan apabila dianggap perlu. Konsentrasi penuh akan menyebabkan daun-daun bibit melon ini terbakar (pl plasmolisis). Penyomprotan ROMA ini dilakukan terutama pada saat 2-3 hari sebelum bibit ditanam dilapangan.
  7. Bibit melon dipindahkan ke lapangan apabila sudah berdaun 4–5 helai atau tanaman melon telah berusia 10–12 hari.


PENGOLAHAN MEDIA TANAM

a.    Pembajakkan
Untuk penanaman melon di dataran menengah-tinggi, struktur tanah biasanya sudah sangat remah sehingga tidak memerlukan pembajakan. Lahan yang dibajak harus digenangi air lebih dahulu selama semalam, kemudian keesokan harinya dilakukan pembajakan ini cukup untuk membalik tanah sehingga cukup dilakukan sekali dengan kedalaman balikan sekitar 30 cm

b.    Pembentukkan bedengan
Buat bedengan dengan ukuran panjang bedengan maksimum 12–15 m; tinggi bedengan 30–50 cm; lebar bedengan 100–110 cm; dan lebar parit 55–65 cm

c.    Pengapuran
Dengan pengapuran akan menambah unsur hara kalsium yang diperlukan untuk dinding sel tanaman. Pengapuran dapat menggunakan dolomit/calmag (CaCO3 MgCO3) kalsit/kaptan (CaCO3). Setelah diperoleh pH rata-rata, penentuan kebutuhan dapat dilakukan dengan menggunakan data berikut ini
  • < 4,0 (paling asam): jumlah kapur >10,24 ton/ha
  • 4,2 (sangat asam): jumlah kapur 9,28 ton/ha
  • 4,6 (asam): jumlah kapur 7,39 ton/ha
  • 5,4 (asam): jumlah kapur 3,60 ton/ha
  • 5,6 (agak asam): jumlah kapur 2,65 ton/ha
  • 6,1 – 6,4 (agak asam): jumlah kapur <0,75 ton/ha

d.    Setelah proses pembuatan bedengan (panjang 15m) selesai taburkan pupuk kandang sebanyak 1 karung untuk setiap bedengan selanjutnya semprotkan/kocorkan ROMA, 1-3 hari kemudian kocorkan ROTAN3 + TRICHODERMA secara merata keseluruh permukaan lahan. Kemudian campur/aduk tanah, setelah selesai tutup dengan mulsa dan biarkan selama 2 minggu jangan dulu dilubangi.Hal ini dilakukan supaya lahan sudah benar2 steril dan sehat untuk media tanam melon, juga kandungan unsur2 hara makro dan mikro siap diserap oleh tanaman.

TEKNIK PENANAMAN

a.    Pembuatan Lubang Tanam
Untuk membuat lubang tanam dengan menggunakan pelat pemanas atau memanfaatkan bekas kaleng susu kental. Plat pemanas yang berupa potongan besi dengan diameter 10 cm, dibuat sedemikian rupa hingga panas yang ditimbulkan dari arang yang dibakar mampu melubangi mulsa PHP dengan cepat. Model penanaman dapat berupa dua baris berhadap-hadapan membentuk segi empat atau dia baros berhadap-hadapan membentuk segi tiga. Dengan jarak antar lubang 40-50 cm

b.    Cara Penanaman
Bibit yang telah di semai + 3 minggu dipindahkan kedalam besar beserta medianya. Akar tanaman diusahakan tidak sampai rusak saat menyobek polibag kecil. Cetakan tanah yang telah berisi bibit melon, diletakkan pada lubang yang telah ditugal dan diusahakan agar tidak pecah/hancur karena bisa mengakibatkan kerusakan akar dan tanaman akan layu jika hari panas

PEREMPELAN

Perempelan dilakukan terhadap tunas/cabang air yang bukan merupakan cabang utama

PEMUPUKKAN

  1. Hari ke 1 : semprot/kocor dengan ROTAN3 + PGPR + TRICHODERMA
  2. Hari ke 7 : semprot/kocor dengan ROMA++
  3. Hari ke 14 : semprot/kocor dengan POC Vegetatif
  4. Hari ke 21 : semprot/kocor dengan ROMA++
  5. Hari ke 28 : semprot/kocor dengan POC Vegetatif
  6. Hari ke 35 : semprot/kocor dengan ROMA++
  7. Hari ke 40 : semprot/kocor dengan POC Generatif
  8. Hari ke 47 : semprot/kocor dengan ROMA++
  9. Hari ke 54 : semprot/kocor dengan POC Generatif
  10. Hari ke 60 : semprot/kocor dengan POC Generatif

PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN

a.    Pengairan
Tanaman melon menghendaki udara yang kering untuk pertumbuhannya, tetapi tanah harus lembab. Pengairan harus dilakukan jika hari tidak hujan. Pengairan dilakukan pada sore atau malam hari.

b.    Penyiraman
Tanaman di siram sejak masa pertumbuhan tanaman, sampai tanaman akan dipetik buahnya. Saat menyiram jangan sampai air siraman membasahi daun dan air dari tanah jangan terkena daun dan buahnya. Tujuannya adalah supaya tanaman tidak dijangkiti penyakit yang berasal dari percikan tersebut, kalau daun basah kuyup akan mengundang jamur sangat besar. Penyiraman dilakukan pagi-pagi sekali atau malam hari. Oleh karena itu ada pengairan di sekitar kebun besar sekali manfaatnya

PEMANGKASAN

Pemangkasan yang dilakukan pada tanaman melon bertujuan untuk memelihara cabang sesuai dengan yang dikehendaki. Tinggi tanaman dibuat rata-rata antara titik ke-20 sampai ke-25 (bagian ruas, cabang atau buku dari tanaman tersebut). Pemangkasan dilakukan kalau udara cerah dan kering, supaya bekas luka tidak diserang jamur. Waktu pemangkasan dilakukan setiap 10 hari sekali, yang paling awal dipangkas adalah cabang yang dekat dengan tanah dan sisakan dua helai daun, kemudian cabang-cabang yang tumbuh lalu dipangkas dengan menyisakan 2 helai daun. Pemangkasan dihentikan, jika ketinggian tanamannya sudah mencapai pada cabang ke-20 atau 25





Sumber: https://www.facebook.com/groups/403183829800395/permalink/585965691522207/

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Cara Menanam Pisang Versi Solusi Petani Organik

Bagi negara tropis seperti di kita ini, sebenarnya menanam pisang bukan hal yang sulit, bonggol pisang tertinggal saja bisa tumbuh dan menjadi tanaman pisang baru. Namun untuk skala bisnis, penanaman pisang tidak bisa begitu saja, ada cara-cara yang bisa dilakukan agar hasilnya dapat maksimal. berikut cara menanam pisang versi SPO (Solusi Petani Organik)

Artikel, Bokashi, Buah Organik, Pertanian Organik, Pestisida Organik, Pupuk Cair, Pupuk Organik, ROTAN, Tips dan Trik,
Persiapan benih:
  1. Ambil anakan/benih dari pohon yang benar-benar sehat
  2. Pangkas daunnya sisakan pucuk daun teratas saja
  3. rendam akar anakan/benih dalam ROTAN+ZPT selama 10-15 menit

Persiapan lahan :
  1. Buat bedengan dengan ketinggian bedengan antara 20-30 cm
  2. Buat lubang ukuran 50x50x50 cm
  3. Usahakan jarak antara lubang 3 x 3 m
  4. Taburkan kapur/dolomit/kaptan 2-3 kg per lubang
  5. Biarkan lubang selama seminggu agar terkena sinar matahari
  6. Seminggu kemudian masukan bokashi tau pupuk organik/kompos yang sudah benar-benar matang sebanyak 15-20 kg dan trichoderma sebanyak 50 - 100 gram
  7. Campurkan dengan tanah dengan perbandingan 1 : 1
  8. Biarkan selama seminggu

Penanaman dan pemupukan :
  1. Tanam anakan yang sudah disiapkan sebelumnya pada sore hari
  2. Siram dengan ROTAN + ZPT (Auxin + Sitokinin) pada hari ke 7
  3. Pemupukan selanjutnya setiap dua minggu sekali dengan ROTAN + MOL sabut Kelapa + Cairan Kohe urine (yang sudah difermentasi sebelumnya) + ZPT (auxin + sitokinin) Selama 2 bulan pertama, bulan ke tiga dan seterusnya boleh sebulan sekali.
  4. Sebulan sebelum masa keluar tandan atau bunga, beri pemupukan ROTAN + MOL buah + ZPT (Sitokinin+Giberalin) + MOL sabut kelapa seminggu sekali.
  5. Setelah tandan pisang berbuah hentikan pemberian ZPT

Catatan: Penanaman sebaiknya dimulai di awal musim hujan (September/Oktober) Untuk regenerasi sebaiknya anakan dalam setiap rumpun cukup 2-3 dengan usia yg berbeda.Dengan pola yg sudah dicoba spt di atas hasil 50-60% lebih banyak dari cara konvensional dan tanaman pisang benar2 bebas dari penyakit.

Semoga sukses .. !!


Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Tips - Mengatasi busuk daun pada Sawi (Caisim)

Apakah anda pernah mengalami penyakit busuk daun saat bercocok tanam Sawi? yang memang pada musim hujan, banyak daun sawi/caisim yang busuk, nah jika daun yang busuk kemudian menempel ke daun lainnya maka akan menular dengan cepat. 

ROMA, Artikel, Pertanian, Pupuk, Sayuran, Organik, Tips dan Trik, Caisim, Sawu
Masalah seperti ini sangat penting untuk segera diatasi. Hal ini tentu saja dikarenakannilai utama dari tanaman sawi/caisim ini adalah daunnya. nah jika daunnya mengalami masalah maka nilai ekonominya juga akan menurun drastis.

Nah dari group Solusi Pertanian Organik, saya mendapatkan solusi menarik yang bisa di aplikasikan/terapkan jika masalah ini terjadi. yaitu dengan mengaplikasikan ROMA. Yup, bahasan tentang roma ini pernah kita bahas sebelumnya. silahkan klik disini jika belum membacanya "".
Menurut Manjel Dech (Pembuat ROMA), aplikasi/penggunaan ROMA ditambah bawang putih kemudian cabe rawit dan jahe serta ditambah telur Insya Allah bisa mengatasi masalah ini. Namun dengan catatan aplikasikan ramuan ini seminggu sekali kalau musim hujan.

Nah semoga Tips ini dapat bermanfaat

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Cara Membuat Bioaktivator dari Cairan Rumen Sapi

Mari kita mulai mandiri menyediakan berbagai kebutuhan yang kita butuhkan dalam bertani. semoga dengan membuat dan menyediakan sendiri kebutuhan, bisa menekan cost produksi. Nah salah satunya adalah pembuatan Bioaktivator. Bioaktivator ini berfungsi sebagai starter/bioaktivator proses pembuatan POC maupun POP, atau bisa digunakan dalam proses Decomposer/Pengkomposan.

Cara, Pembuatan, Dasar, Kompos, Organik, Panduan, Budidaya, Pertanian, Pestisida, Pupuk, Cair, ROTAN, Tips dan Trik,
Rumen sapi (wikimedia.org)
Langsung saja:

Bahan Utama :
  • Cairan rumen (isi usus halus sapi/cairan hasil perasan isi usus besar sapi) = 2 liter
  • Air gula /tebu/tetes tebu/molasis = 2 liter
  • Air rebusan dedak/katul = 4 liter

Bahan Tambahan :
  • Ragi tape = 2-3 buah
  • Trasi = seperempat-1 ons
  • Buah nanas = 1 buah
  • Urine Hewan (boleh sapi/kelinci/domba/kambing) yang sudah diendapkan selama satu minggu sebanyak 4 liter

Cara Buat :
  1. Campurkan 1 Kg katul/dedak dengan 5 liter air, lalu didihkan, kemudian saring dan ambil airnya sebanyak 4 liter.
  2. Campurkan rumen sebanyak 2 liter dengan air gula/tetes tebu/molases sebanyak 2 liter
  3. Campurkan air rebusan katul/dedak sebanyak 4 liter kedalam larutan campuran nomer 2.
  4. Campurkan 1 buah nanas yang telah dihancurkan/diparut/diblender.
  5. Campurkan seperempat-1 ons trasi yang telah diencerkan dengan air secukupnya.
  6. Tambahkan 2-3 buah ragi tape kedalam larutan tersebut.
  7. Tambahkan Urine sapi/kelinci/domba/kambing tadi
  8. Masukan larutan bio aktivator tersebut pada wadah (botol/jerigen/ember) yang terbuat dari bahan plastik lalu tutup rapat, kemudian larutan simpan selama 2 minggu.
  9. Jika larutan sudah jadi, campurkan larutan dengan ROTAN 1 liter

Ciri – ciri bioaktivator yang sudah jadi:
  • Bio aktifator yang sudah jadi akan berbau khas tape/fermentasi/harum.
  • Berwarna kuning kecoklatan.
  • Tidak keruh dan tidak ada jamur berwarna coklat/abu–abu/hitam.

Ciri – ciri bioaktivator yang gagal :
  • Banyak mikroorganisme dalam larutan ini yang mati.
  • Jika dilihat, larutan akan berwarna coklat kehitaman, berbau busuk dan terdapat banyak jamur berwarna coklat/abu – abu/hitam.

Catatan:
Komposisi/kandungan microba dari campuran bioaktivator dengan ROTAN Insya Allah menjadi Probiotik yg bisa dikatakan “SEMPURNA” untuk digunakan proses pembuatan POC maupun POP, atau bisa digunakan dalam proses Decomposer/Pengkomposan.

Microba yg terkandung :
  • Microba selulolitik (Bacteriodes succinogenes dan Cillobacterium cellulosolvens serta Bacteriodes ruminicola)
  • Microba Amilolitik (Streptococcus bovis, Bacteriodes amylophilus),
  • Microba Bakteri Hemiselulolitik (Butyrivibrio fibriosolven, microba Ureolitik (Streptococcus sp),
  • Microba penambah N (Azotobakter, Azospirillum (bakteri penambat N2 yang tidak bersimbiosis dengan tanaman,
  • Microba pelarut P (Bacillus subtilis, Aspergillus niger, Bacillus polymixa [bakteri penghasil senyawa yang dapat melarutkan fosfat tanah Bacillus megatherium, pelarut phosphat dari ikatan phospor dengan mineral liat]),
  • Acetobacter sp, penghasil vitamin dan fitohormon (ZPT) yang dibutuhkan tanaman,
  • Actinomycetes sp, (Azospirillum lipoverum) penambat N, pelarut P, penghasil vitamin dan fitohormon (ZPT) yang dibutuhkan tanaman,
  • Bacillus mojavensis, bersama Streptomyces meningkatkan kemampuan tanah memegang air dan hara,
  • Lactobacillus sp, penghasil enzim selulosa yang membantu penguraian bahan organic,
  • Nitrosococcus sp, mengubah amonia menjadi N yg dpt diserap tanaman (NH4+ & NO3‾),
  • Nitrosomonas sp, mengubah amonia menjadi N yg dpt diserap tanaman (NH4+ & NO3‾),
  • Streptomyces sp, bersama Bacillus mojavensis meningkatkan kemampuan tanah memegang air dan hara.

Sumber:
https://www.facebook.com/notes/solusi-petani-organik
Bapak Manjel Dech (https://www.facebook.com/manjel.dech)
Teteh Eka Noerputri (Putri Ayah Manjel)

Dengan beberapa penambahan tanpa mengurangi isi artikel.

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Cara Membuat Ramuan Organik Tanaman (ROTAN)

Terlalu banyak menggunakan pupuk atau pestisida sintesis membuat kesuburan tanah kian rawan, bagaimanapun harus ada solusi. nah berikut salah satu solusi yang bisa anda coba. Namanya Ramuan Organik Tanaman (ROTAN). Fungsi Ramuan Organik Tanaman (ROTAN) adalah sebagai Pupuk Organik Cair yang bisa di aplikasikan ke berbagai jenis perawatan tanaman, dari mulai campuran pupuk, pembasmi hama, dan lain sebagainya. Nah bagaimana cara membuatnya? berikut artikel yang saya dapatkan dari Group Solusi Petani Organik.

Bokashi, Pupuk Organik, Tips dan Trik, Cara Pembuatan, ROTAN, Nanas
Nanas, komponen pembuatan
CARA BUAT POC ROTAN by Manjel Dech

Bahan :
1. Buah Pisang : 5 buah
2. Buah Pepaya : 1 buah
3. Buah Nanas : 1 buah
4. Buah Mangga : 2 buah
5. Buah Melon/semangka : 1 buah
6. Kangkung air : 3 ikat
7. Kacang panjang : 3 ikat
8. Jagung muda : 2 buah
9. Ragi : 3 butir
10. Air kelapa : 5 liter
11. Air leri : 3 liter
12. Gula Kelapa : 1 kg
13. Usus ikan : 2 ons

Cara buat :
No 1 sampai 8 di blender sampai spt jus
didihkan Gula kelapa dengan air 1 liter, lalu biarkan sampai dingin
Campurkan semua bahan, kemudian aduk rata
Simpan larutan dalam wadah yang terbuat dari tembikar/plastic (jangan menggunakan wadah yang terbuat dari logam)
Fermentasi larutan selama 10-14 hari, setiap 2 hari sekali aduk larutan selama 5 menit, kemudian tutup kembali larutan
Ciri-ciri bahwa pembuatan rotan berhasil adalah jika campuran ini berbau asam dan harum tape
Fermentasi selesai jika sudah tidak lagi ada gas yang terkandung
Saring, ampasnya jangan sampai dibuang, karena masih mengandung mikroba baik.
Selesai

POC Rotan ini mengandung microba Azotobacter sp., Pseudomonas sp., Azospirillium sp., Rhizobium sp., Lactobacillius sp. dan Streptomyces sp.

Jika anda tidak ingin selalu membuat POC ini dari awal, silahkan perbanyak larutan dengan cara berikut:
1. Air jernih (sumur/mata air) : 100 liter
2. Dedak : 10 kg
3. Gula kelapa : 5 kg
4. Air kelapa : 10 liter
5. POC ROTAN : 1 liter

Panaskan air, dedak dan gula, sesudah dingin campurkan dengan dengan air kelapa dan ROTAN masukan dalam drum plastic tutup rapat selama 7 hari.

Selesai .. dah jadi POC ROTAN 100 liter dengan kwalitas yang sama.

Bagaimana agar ROTAN benar-benar memiliki kualitas terbaik?
Tambahkan ZPT Auxin 1 Liter, Sitokinin 1 liter (untuk pupuk vegetatif) kedalam 100 liter tadi
Tambahkan ZPT Sitokini ½ liter, Giberelin 1.5 liter (untuk pupuk generatif) kedalam 100 liter tadi

Dosis :
Untuk tanaman padi : 250 ml campur dengan air 14 liter (1 minggu sekali)
Untuk palawija : 100 ml campur dengan air 14 liter (1 minggu sekali)

Sekarang bagaimana caranya untuk mencukupi kebutuhan unsur hara makro dan mikronya?
Buat pupuk organic padat / bokashi :
1. Kohe domba : 1 ton
2. Dolomit : 100 kg
3. Dedak : 50 kg
4. Sekam : 300 kg
5. Jerami : 1 ton
6. ROTAN : 4 liter
7. Air kelapa : secukupnya

Fermentasi semua selama 5-7 hari
Terdapat 16 unsur hara sudah tercukupi untuk 1 hektare


Sumber:
  • https://www.facebook.com/notes/solusi-petani-organik
  • Bapak Manjel Dech (https://www.facebook.com/manjel.dech)

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Cara Mudah Membuat Pupuk Organik Cair (POC)

PROSES PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR SANGAT MUDAH, PRAKTIS, dan DAPAT DIAPLIKASIKAN UNTUK SELURUH LAPISAN MASYARAKAT.

Organik, Dasar Organik, Pupuk Cair, Pupuk Organik, Tips dan Trik

Cara Membuat Pupuk Organik Cair

1. Pilih sampah organik seperti sisa makanan, sisa sayuran, kulit buah, sisa ikan, dan daging (kalau bahan ini semua peternak pasti tahu dan sering dipergunakan juga untuk pakan).

2. Potong kecil-kecil semua bahan, agar proses pembusukan berlangsung sempurna, semakin kecil semakin bagus (bisa juga menggunakan mesin giling/rajang yg biasa dipakai peternak, masih ada hubungan kan dengan peternak?)

3. Siapkan cairan bioaktivator Propuri (produk lain no komentlah, soalnya produk tsb. penulis metodologi ini). Berikut penyiapan larutan bioaktivator Propuri :
  • siapkan sprayer 1 liter (kalau tidak punya ada kok saya jual, he)
  • isi sprayer dengan air, sebaiknya gunakan air sumur (pokoknya air sumurlah, jangan banyak tanya, hehe)
  • tuangkan propuri ke dalam sprayer dengan perbandingan 1 liter dicampur 1-2 tutup botol propuri
  • kocok sampai rata, larutan siap untuk diminum (maaf untuk digunakan)

4. Setelah sampah terkumpul dan dirajang/dipotong, semprotkan secara merata ke seluruh sampah, masukkan sampah ke dalam komposter dan tutup rapat.

5. Pada awal pemakaian, komposter baru dapat menghasilkan lindi atau pupuk cair setelah dua minggu. Selanjutnya, pemanenan lindi dapat dilakukan setiap 2-3 hari (enak mana sama ternak ayam kampung? ini panen setiap 2-3 hari bro!, he)

Pengambilan lindi sebaiknya hanya sebatas keran saja. Sementara itu, lindi yang tertampung di bawah keran sebaiknya tidak perlu diambil. Pasalnya terkandung cukup banyak mikroba yang sangat membantu pembusukan sampah di dalam komposter (nah ingat, jangan rakus-rakus, kayak koruptor, he)

Jika pengomposan awal sudah dilakukan, selanjutnya sampah baru sudah dapat dimasukkan setiap hari, jangan lupa menyemprotkan bioaktivatornya.

Mudah Bukan? Silahkan dicoba dan kita diskusikan bersama disini.

Cara Aplikasi :

Pupuk cair organik yang baru dipanen sebaiknya jangan langsung digunakan. Tambahkan kembali bioaktivator Propuri dengan takaran 1 tutup botol untuk 1-2 liter lindi, lalu diamkan 2-3 hari agar bakteri berkembang biak dengan cepat. Pupuk Organik cair ini dapat disimpan 1-2 bulan. Selama penyimpanan lindi, botol sebaiknya jangan ditutup, biarkan terjadi sirkulasi udara. Jika langsung ditutup lindi dapat menghasilkan gas.

Cara Aplikasi ke Tanaman :
  • Campurkan pupuk organik cair dengan perbandingan 1:5 (POC:Air).
  • Siramkan lindi ke tanaman, baik sayuran, tanaman buah, dan tanaman hias, penyiraman seminggu sekali.
  • Campuran 10 liter POC (lindi) dengan 50 liter air cukup untuk satu kali pemakaian di kebun sayuran berukuran 10 x 10 meter.


Dikutip dari Komunitas Lele Sangkuriang

Artikel ini ditulis ulang oleh :
Maju Bersama Poultry Shop https://www.facebook.com/photo.php?fbid=633947086662766&set=a.219275454796600.52885.206350232755789&type=1&relevant_count=1

Dari buku Membuat Pupuk Organik Cair, oleh : Sukamto Hadisuwito

Foto sumber : http://warasfarm.wordpress.com/2013/03/19/cara-membuat-pupuk-organik-cair-mol-dan-kompos/

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Membuat pupuk bokashi skala rumah tangga

Pupuk bokashi bisa dibuat dalam skala rumah tangga dengan memanfaatkan limbah dapur atau sisa makanan. Bokashi dari hasil daur ulang sampah bisa digunakan untuk memupuk tanaman pekarangan.
Penggunaannya sama dengan penggunaan pupuk organik yang dijual dipasaran. Berikut tahapan membuatnya:
  • Siapkan bahan-bahan berikut: sisa sayuran, buah-buahan, sisa makanan (nasi, roti, dll), tulang ikan, tulang ayam, 5 kg dedak/serbuk gergaji, 5 kg arang sekam, 10 ml EM4 dan dua sendok gula pasir.
  • Siapkan satu tong plastik ukuran 200 liter. Buat lubang bagian bawahnya untuk mengeluarkan cairan hasil pengomposan. Cairan ini berguna sebagai pupuk organik cair.
  • Potong atau rajang material organik menjadi potongan kecil, campurkan dengan dedak/serbuk gergaji dan arang sekam.
  • Encerkan 10 ml larutan EM4 dengan 1 liter air, tambahkan dua sendok gula pasir. Kemudian siramkan pada campuran bahan baku tadi.
  • Tutup rapat tong plastik, apabila suhu melebihi 45oC. Abila warna dan teksturnya sudah seperti tanah, itu tandanya pupuk bokashi sudah terbentuk. Prosesnya kira-kira 5-7 hari.

Sumber: Berbagai Sumber

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Cara membuat pupuk bokashi

Pupuk bokashi merupakan pupuk kompos yang dibuat dengan cara fermentasi. Bahan baku pupuk bokashi terdiri dari sisa tanaman, kotoran ternak, sampah dapur atau campuran material organik lainnya. Pupuk bokashi dibuat dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme efektif (EM4) sebagai dekomposernya.

Bokashi dipopulerkan pertamakali di Jepang sebagai pupuk organik yang bisa dibuat dengan cepat dan efektif. Terminologi bokashi diambil dari istilah bahasa Jepang yang artinya perubahan secara bertahap. Sedangkan EM4 merupakan jenis mikroorganisme dekomposer untuk membuat pupuk bokashi. EM4 dipopulerkan oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Jepang.
Proses pembuatan pupuk bokashi relatif lebih cepat dari pengomposan konvensional. Bokashi sudah siap dijadikan pupuk dalam tempo 1-14 hari sejak dibuat, tergantung dari bahan baku dan metode yang digunakan. Membuat bokashi sangat mudah, bisa dilakukan dalam skala rumah tangga maupun skala pertanian yang lebih besar. Berikut ini kami jelaskan tahap-tahapnya.

Menyiapkan mikroorganisme dekomposer (EM4)

Hal pertama yang harus dilakukan untuk membuat pupuk bokashi adalah menyiapkan mikroorganisme dekomposernya. Salah satu dekomposer bokashi yang paling populer adalah EM4. Larutan EM4 terdiri dari mikroorganisme yang diisolasi secara khusus untuk menguraikan sampah organik dengan cepat. Mikroorganisme yang terkandung dalam EM4 terdiri dari bakteri fotosintesis, bakteri asam laktat (Lactobacillus sp), Actinomycetes dan ragi.
EM4 dijual dipasaran dalam bentuk cairan kental yang telah dikemas dalam berbagai ukuran. Untuk membuat dekomposer bokashi, kita cukup mengencerkan cairan tersebut dan mencampurkannya dengan bahan baku bokashi. Selain membelinya, kita juga bisa membuat cairan mikroorganisme efektif (EM) sendiri. Berikut langkah-langkahnya:
  • Siapkan bahan-bahan berikut: pepaya dan kulitnya 0,5 kg, pisang dan kulitnya 0,5 kg, nenas dan kulitnya 0,5 kg, kacang panjang segar 0,25 kg, sayuran hijau (kangkung/bayam) 0,25 kg, gula pasir 1kg dan ragi tape 5 butir.
  • Campur pepaya, nenas, pisang, kacang panjang dan sayuran dan lumatkan bahan-bahan tersebut dengan blender.
  • Masukkan bahan-bahan yang telah dilumat kedalam ember yang ada penutupnya. Lalu tambahkan 1 liter air, gula pasir dan ragi tape. Aduk perlahan hingga merata. Kemudian tutup ember dengan rapat, diamkan selama 7 hari.
  • Setelah tujuh hari akan terbentuk cairan berwarna coklat gelap. Saring cairan tersebut, air hasil saringan merupakan larutan efektif mikroorganisme (EM) yang bisa dijadikan dekomposer pupuk bokashi. Simpan cairan dalam wadah/botol. Larutan EM bisa dipakai hingga 6 bulan, sedangkan ampasnya bisa digunakan sebagai kompos.

Membuat pupuk bokashi skala pertanian (1 ton)

Pupuk bokashi bisa dibuat dari hijauan sisa panen dan limbah peternakan. Waktu yang diperlukan untuk membuat bokashi skala besar dan skala kecil sama saja, yang membedakannya adalah volume bahan bakunya. Berikut tahapan membuat bokashi untuk penggunaan pertanian:
  • Siapkan bahan-bahan berikut: 200 kg jerami atau sisa hijauan, 600 kg kotoran ternak yang telah kering, 50 kg serbuk gergaji/dedak, 50 kg arang sekam, 100 kg humus (top soil, berasal dari tanah hutan lebih baik), 1 liter larutan dekomposer (EM4) dan 1 kg gula pasir.
  • Pilih tempat fermentasi yang terlindung dari air hujan dan sengatan matahari langsung. Buat lubang berbentuk persegi panjang di atas tanah tersebut dengan lebar 1 meter, panjang 2 meter dan dalam 30-50 cm, atau sesuaikan ukuran lubang dengan banyaknya bahan baku.
  • Cacah jerami atau hijauan kecil-kecil, campuran bahan-bahan organik yang telah disiapkan, aduk hingga merata dengan cangkul atau sekop. Bila perlu (misalnya tanah Anda asam), tambahkan abu (Mg) dan kapur pertanian (Ca) untuk memperkaya kandungan hara pupuk bokashi yang dihasilkan.
  • Encerkan larutan EM4, ambil 1 liter larutan campurkan dengan 200 liter air bersih dan 1 kg gula pasir. Kemudian siramkan pada campuran bahan baku sambil diaduk. Atur kelembaban hingga mencapai 30-40%. Untuk memperkirakan tingkat kelembaban, kepalkan campuran hingga bisa menggumpal tapi tidak sampai mengeluarkan air. Apabila kelembabannya kurang, tambahkan air secukupnya.
  • Tutup rapat lubang fermentasi dengan plastik atau terpal, diamkan hingga 7-14 hari. Perlu diingat, kontrol suhu fermentasi hingga maksimal 45oC. Apabila melebihi suhu tersebut, aduk dengan cangkul agar suhunya turun.
  • Setelah 14 hari, biasanya pupuk bokashi sudah terbentuk dan bisa diaplikasikan langsung.

Sumber: Alam Tani

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Pelajari Cara membuat Pupuk Organik Cair (POC)

Pada postingan ini, kita akan membahas cara membuat pupuk organik cair. Pupuk organik cair dalam pembahasan ini mengacu pada pengertian pupuk organik dan pupuk kompos, Secara singkat bisa dikatakan pupuk organik cair adalah pupuk berfasa cair yang dibuat dari bahan-bahan organik melalui proses pengomposan. 

Mengapa harus ditekankan demikian? Karena kami berpandangan pupuk organik tidak hanya mempunyai fungsi sebagai penyedia hara, melainkan juga berfungsi memperbaiki lingkungan sekitar tanaman, baik secara fisik, kimia, maupun biologi. Oleh karena itu pupuk organik bukan sekedar dibuat dari bahan-bahan organik, tetapi juga harus berkerja secara organis juga pada tanaman. Agar bisa dibedakan dengan pupuk organik cair yang banyak beredar dipasaran. Dimana pupuk tersebut dibuat dari bahan organik tetapi pembuatannya tidak melibatkan proses dekomposisi biologi, tetapi lebih menggunakan proses fisik, seperti pemanasan, ekstraksi, penguapan dan lain-lain.

Terdapat dua macam tipe pupuk organik cair yang dibuat melalui proses pengomposan. Pertama adalah pupuk organik cair yang dibuat dengan cara melarutkan pupuk organik yang telah jadi atau setengah jadi ke dalam air. Jenis pupuk yang dilarutkan bisa berupa pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk kompos atau campuran semuanya. Pupuk organik cair semacam ini karakteristiknya tidak jauh beda dengan pupuk organik padat, hanya saja wujudnya berupa cairan. Dalam bahasa lebih mudah, kira-kira seperti teh yang dicelupkan ke dalam air lalu airnya dijadikan pupuk.

Pupuk cair tipe ini suspensi larutannya kurang stabil dan mudah mengendap. Kita tidak bisa menyimpan pupuk tipe ini dalam jangka waktu lama. Setelah jadi biasanya harus langsung digunakan. Pengaplikasiannya dilakukan dengan cara menyiramkan pupuk pada permukaan tanah disekitar tanaman, tidak disemprotkan ke daun.

Kedua adalah pupuk organik cair yang dibuat dari bahan-bahan organik yang difermentasikan dalam kondisi anaerob dengan bantuan organisme hidup. Bahan bakunya dari material organik yang belum terkomposkan. Unsur hara yang terkandung dalam larutan pupuk cair tipe ini benar-benar berbentuk cair. Jadi larutannya lebih stabil. Bila dibiarkan tidak mengendap. Oleh karena itu, sifat dan karakteristiknya pun berbeda dengan pupuk cair yang dibuat dari pupuk padat yang dilarutkan ke dalam air. Tulisan ini bermaksud untuk membahas pupuk organik cair tipe yang kedua.

Sifat dan karakteristik pupuk organik cair

Pupuk organik cair tidak bisa dijadikan pupuk utama dalam bercocok tanam. Sebaiknya gunakan pupuk organik padat sebagai pupuk utama/dasar. Pupuk organik padat akan tersimpan lebih lama dalam media tanam dan bisa menyediakan hara untuk jangka yang panjang. Sedangkan, nutrisi yang ada pada pupuk cair lebih rentan terbawa erosi. Namun di sisi lain, lebih mudah dicerna oleh tanaman.

Jenis pupuk cair lebih efektif dan efesien jika diaplikasikan pada daun, bunga dan batang dibanding pada media tanam (kecuali pada metode hidroponik). Pupuk organik cair bisa berfungsi sebagai perangsang tumbuh. Terutama saat tanaman mulai bertunas atau saat perubahan dari fase vegetatif ke generatif untuk merangsang pertumbuhan buah dan biji. Daun dan batang bisa menyerap secara langsung pupuk yang diberikan melalui stomata atau pori-pori yang ada pada permukaannya.

Pemberian pupuk organik cair lewat daun harus hati-hati. Jaga jangan sampai overdosis, karena bisa mematikan tanaman. Pemberian pupuk daun yang berlebih juga akan mengundang hama dan penyakit pada tanaman. Jadi, ketepatan takaran harus benar-benar diperhatikan untuk mendapatkan hasil maksimal.

Setiap tanaman mempunyai kapasitas dalam menyerap nutrisi sebagai makanannya. Secara teoritik, tanaman hanya sanggup menyerap unsur hara yang tersedia dalam tanah tidak lebih dari 2% per hari. Pada daun, meskipun kami belum menemukan angka persisnya, bisa diperkirakan jumlahnya tidak lebih dari 2%. Oleh karena itu pemberian pupuk organik cair pada daun harus diencerkan terlebih dahulu.

Karena sifatnya sebagai pupuk tambahan, pupuk organik cair sebaiknya kaya akan unsur hara mikro. Sementara unsur hara makro dipenuhi oleh pupuk utama lewat tanah, pupuk organik cair harus memberikan unsur hara mikro yang lebih. Untuk mendapatkan kandungan hara mikro, bisa dipilah dari bahan baku pupuk.

Cara membuat pupuk organik cair

  • Siapkan bahan-bahan berikut: 1 karung kotoran ayam, setengah karung dedak, 30 kg hijauan (jerami, gedebong pisang, daun leguminosa), 100 gram gula merah, 50 ml bioaktivator (EM4), air bersih secukupnya.
  • Siapkan tong plastik kedap udara ukuran 100 liter sebagai media pembuatan pupuk, satu meter selang aerotor transparan (diameter kira-kira 0,5 cm), botol plastik bekas akua ukuran 1 liter. Lubangi tutup tong seukuran selang aerotor.
  • Potong atau rajang bahan-bahan organik yang akan dijadikan bahan baku. Masukkan kedalam tong dan tambahkan air, komposisinya: 2 bagian bahan organik, 1 bagian air. Kemudian aduk-aduk hingga merata.
  • Larutkan bioaktivator seperti EM4 dan gula merah 5 liter air aduk hingga merata. Kemudian tambahkan larutan tersebut ke dalam tong yang berisi bahan baku pupuk.
  • Tutup tong dengan rapat, lalu masukan selang lewat tutup tong yang telah diberi lubang. Rekatkan tempat selang masuk sehingga tidak ada celah udara. Biarkan ujung selang yang lain masuk kedalam botol yang telah diberi air.
  • Pastikan benar-benar rapat, karena reaksinya akan berlangsung secara anaerob. Fungsi selang adalah untuk menyetabilkan suhu adonan dengan membuang gas yang dihasilkan tanpa harus ada udara dari luar masuk ke dalam tong.
  • Tunggu hingga 7-10 hari. Untuk mengecek tingkat kematangan, buka penutup tong cium bau adonan. Apabila wanginya seperti wangi tape, adonan sudah matang.
  • Pisahkan antara cairan dengan ampasnya dengan cara menyaringnya. Gunakan saringan kain. Ampas adonan bisa digunakan sebagai pupuk organik padat.
  • Masukkan cairan yang telah melewati penyaringan pada botol plastik atau kaca, tutup rapat. Pupuk organik cair telah jadi dan siap digunakan. Apabila dikemas baik, pupuk bisa digunakan sampai 6 bulan.


Penggunaan pupuk organik cair

Pupuk organik cair diaplikasikan pada daun, bunga atau batang. Caranya dengan mengencerkan pupuk dengan air bersih terlebih dahulu kemudian disemprotkan pada tanaman. Kepekatan pupuk organik cair yang akan disemprotkan tidak boleh lebih dari 2%. Pada kebanyakan produk, pengenceran dilakukan hingga seratus kalinya. Artinya, setiap 1 liter pupuk diencerkan dengan 100 liter air.

Untuk merangsang pertumbuhan daun, pupuk organik cair bisa disemprotkan pada tanaman yang baru bertunas. Sedangkan untuk menghasilkan buah, biji atau umbi, pupuk disemprotkan saat perubahan fase tanaman dari vegetatif ke generatif. Bisa disemprotkan langsung pada bunga ataupun pada batang dan daun. Setiap penyemprotan hendaknya dilakukan dengan interval waktu satu minggu jika musim kering atau 3 hari sekali pada musim hujan. Namun dosis ini harus disesuaikan lagi dengan jenis tanaman yang akan disemprot.

Pada kasus pemupukan untuk pertumbuhan daun, gunakan pupuk organik cair yang banyak mengandung nitrogen. Caranya adalah dengan membuat pupuk dari bahan baku kaya nitrogen seperti kotoran ayam, hijauan dan jerami. Sedangkan pada kasus pemupukan untuk pertumbuhan buah, gunakan bahan baku pupuk yang kaya kalium dan fosfor, seperti kotoran kambing, kotoran sapi, sekam padi dan dedak. Kandungan setiap jenis material organik bisa dilihat di tabel berikut.

Secara sederhana bisa dikatakan, untuk membuat pupuk perangsang daun gunakan sumber bahan organik dari jenis daun-daunan. Sedangkan untuk membuat pupuk perangsang buah gunakan bahan organik dari sisa limbah buah seperti sekam padi atau kulit buah-buahan.

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Mempelajari Cara membuat Kompos 'Takakura'

Pernah mendengar istilah “kompos takakura”? Bila ditilik dari hasil akhirnya, tidaklah jauh berbeda dengan kompos yang biasa kita temukan. Perbedaannya, kompos takakura dibuat dengan cara Takakura Home Method Composting, sebuah metode pembuatan kompos yang ditujukan untuk mendaurulang sampah dapur.
Metode kompos takakura pertamakali diperkenalkan di Surabaya pada tahun 2004 oleh seorang Jepang bernama Mr. Takakura. Waktu itu, beliau mencoba mencari solusi terhadap penumpukan sampah organik di kota itu. Sehingga muncul ide untuk mendaur ulang sebagian sampah rumah tangga sejak di dapur. Maka, dirancanglah sebuah metode pembuatan kompos yang bisa dilakukan di dapur. Syaratnya harus higienis tidak berbau dan tidak jorok, mengingat dapur merupakan tempat mengolah makanan.
Proses pembuatan kompos takakura sangatlah mudah, hanya saja kita harus menyiapkan starter mikroorganisme dan pembuatan bibit kompos terlebih dahulu. Langkah persiapan ini cukup dilakukan sekali saja. Selanjutnya tinggal melakukan pengomposan secara terus menerus. Apabila Anda tidak sempat membuat starter dan bibit kompos, saat ini sudah banyak yang menjual paket kompos takakura siap pakai.

Menyiapkan starter mikroorganisme

Larutan starter dibuat dengan cara mengisolasi mikroorganisme pengurai dari bahan makanan seperti tempe, youghurt, tauco, sayuran dan buah-buahan. Mikroorganisme dipilih dari bahan-bahan tersebut karena sifatnya yang tidak berbau busuk. Ada dua larutan starter yang harus disiapkan. Pertama larutan berbasis bakteri fermentasi dengan tambahan gula. Kedua, bakteri yang diambil dari sayuran dan buah dengan penambahan garam. Starter ini akan dipakai sebagai dekomposer dalam pembuatan bibit kompos takakura.

a. Starter dengan larutan gula

  • Siapkan stoples kaca ukuran lima liter, pilih yang kedap udara.
  • Tambahkan kedalam toples 200 gram gula merah, encerkan dengan 3 liter air bersih aduk sampai merata.
  • Masukkan 5 butir ragi atau ragi tempe. Apabila tidak ada bisa diganti dengan sepotong tempe atau tape.
  • Tutup rapat dalam toples, diamkan hingga 3-5 hari. Warna akhir larutan coklat pekat baunya wangi tape. Larutan siap untuk digunakan.

b. Starter dengan larutan garam

  • Siapkan stoples kaca ukuran lima liter, pilih yang kedap udara.
  • Tambahkan kedalam toples 1 sendok makan gula dapur, encerkan dengan 3 liter air bersih aduk sampai merata.
  • Pilih beberapa potong sayuran hijau seperti kangkung, bayam, atau kulit buah-buahan seperti pepaya, pisang. Lumat material tersebut dengan blender, masukkan kedalam toples.
  • Tutup toples dengan rapat, diamkan 3-5 hari. Apabila baunya enak, seperti bau tape atau alkohol artinya larutan sudah siap digunakan.

Membuat bibit kompos takakura

Bibit kompos takakura dibuat dari dua bahan, yakni dedak dan sekam padi. Perbandingan antara dedak dan sekam adalah satu banding satu. Dekomposer yang digunakan adalah kedua larutan starter yang sudah dibuat dengan cara di atas. Berikut langkah-langkahnya:
  • Siapkan 100 kg dedak, 100 kg sekam, starter mikroorganisme, air bersih dan terpal plastik.
  • Cari tempat yang terlindung panas dan hujan dengan dasar plester atau permukaan keras lainnya.
  • Aduk dedak dan sekam sampai merata. Kemudian tambahkan larutan starter yang telah kita buat sebelumnya kemudian aduk sampai merata.
  • Siram dengan air bersih secukupnya hingga mencapai kelembaban 40-60%. Untuk memperkirakan kelembaban adalah dengan cara menggenggam material dengan kepalan tanagan. Apabila material sudah bisa membentuk dan solid itu tandanya kelembaban sudah tercapai. Namun apabila ketika dikepal mengeluarkan air, tandanya kelembaban sudah berlebih.
  • Tutup rapat tumpukan material tersebut dengan terpal plastik dan diamkan selama 5-7 hari.
  • Tanda kompos sudah matang apabila permukaan tumpukan kompos diselimuti lapisan mould putih. Warna kompos coklat gembur dan tidak berbau. Bibit kompos yang dihasilkan cukup untuk 40-50 rumah tangga.

(1) Dedak dan sekam padi, (2) Cara mengukur tingkat kelembaban, (3) Pengadukan, (4) Penutupan, (5) Bibit kompos telah jadi

Menyiapkan keranjang takakura

Siapkan keranjang berukuran kira-kira 60 liter. Keranjang bisa terbuat dari plastik, anyaman bambu atau anyaman rotan. Karena proses pembuatan kompos takakura bersifat aerobik, dinding keranjang harus memiliki pori-pori udara. Bentuk keranjang boleh silinder boleh kotak.
Lapisi dinding keranjang dengan kardus atau kertas tebal. Tujuannya agar material yang ada dalam keranjang tidak berceceran keluar, serangga dari luar tidak bisa masuk kedalam, kelebihan air bisa terserap kardus tidak membasahi tempat .

Proses pengomposan takakura

Proses pembuatan kompos takakura ini berlangsung kering dan tidak berbau, sehingga tidak terkesan jorok dan keranjang bisa ditempatkan di dapur. Proses reaksinya berlangsung secara aerobik dengan reaksi seperti berikut:

Bahan baku utama membuat kompos takakura ini adalah bibit kompos takakura dan sampah dapur organik. Sampah dapur yang cocok dijadikan kompos takakura adalah sisa sayuran, buah-buahan, nasi, roti, mie, kue, dll. Sampah yang tidak diperkenankan adalah daging, tulang, telur, susu, dan sampah hewani lain. Perlu diingat, sebelum dimasukkan ke keranjang takakura buang terlebih dahulu air yang ada dalam sampah.
Berikut langkah-langkah membuat kompos takakura:
  • Masukkan sekitar 2-3 kg bibit kompos takakura atau kira-kira serempat keranjang.
  • Masukkan sampah organik kedalam keranjang takakura. Kemudian aduk-aduk sampah tersebut dengan bibit kompos takakura yang terdapat dalam keranjang.
  • Tutup keranjang rapat-rapat agar serangga dan lalat tidak masuk. Keranjang tidak usah diisi langsung penuh, masukkan sampah organik seadanya. Lakukan secara rutin setiap hari sampai keranjang penuh. Sampah yang baru dimasukkan akan difermentasi dalam 1-2 hari.
  • Apabila keranjang sudah penuh, kira-kira 90% sudah terisi, ambil duapertiganya. Pindahkan kompos tersebut kedalam karung, biarkan selama 2 minggu sebelum digunakan. Kompos yang dihasilkan kering tidak terdapat cairan.
  • Kompos takakura sudah terbentuk sempurna apabila teksturnya sudah seperti tanah, warna coklat kehitaman, tidak berbau.
  • Untuk menguji kualitas kompos larutkan dalam air bersih. Kompos yang baik akan tenggelam, apabila ada yang terapung berarti belum material tersebut belum menjadi kompos. Air akan tetap bersih, apabila air berubah warnanya jadi kecoklatan, artinya dalam kompos terdapat cairan hasil fermentasi anaerobik.

  • Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
    Salam Hijau

Pelajari cara Membuat Pestisida Organik

Pestisida organik merupakan ramuan obat-obatan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman yang dibuat dari bahan-bahan alami. Bahan-bahan untuk membuat pestisida organik diambil dari tumbuhan-tumbuhan, hewan dan mikroorganisme. Karena dibuat dari bahan-bahan yang terdapat di alam bebas, pestisida jenis ini lebih ramah lingkungan dan lebih aman bagi kesehatan manusia.

Bila dibandingkan dengan pestisida kimia, pestisida organik mempunyai beberapa kelebihan. Pertama, lebih ramah terhadap alam, karena sifat material organik mudah terurai menjadi bentuk lain. Sehingga dampak racunnya tidak menetap dalam waktu yang lama di alam bebas. Kedua, residu pestisida organik tidak bertahan lama pada tanaman, sehingga tanaman yang disemprot lebih aman untuk dikonsumsi. Ketiga, dilihat dari sisi ekonomi penggunaan pestisida organik memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Produk pangan non-pestisida harganya lebih baik dibanding produk konvensional. Selain itu, pembuatan pestisida organik bisa dilakukan sendiri oleh petani sehingga menghemat pengeluaran biaya produksi. Keempat, penggunaan pestisida organik yang diintegrasikan dengan konsep pengendalian hama terpadu tidak akan menyebabkan resistensi pada hama.

Namun ada beberapa kelemahan dari pestisida organik, antara lain kurang praktis. Pestisida organik tidak bisa disimpan dalam jangka lama. Setelah dibuat harus segera diaplikasikan sehingga kita harus membuatnya setiapkali akan melakukan penyemprotan. Selain itu, bahan-bahan pestisida organik lumayan sulit didapatkan dalam jumlah dan kontinuitas yang cukup. Dari sisi efektifitas, hasil penyemprotan pestisida organik tidak secepat pestisida kimia sintetis. Perlu waktu dan frekuensi penyemprotan yang lebih sering untuk membuatnya efektif. Selain itu, pestisida organik relatif tidak tahan terhadap sinar matahari dan hujan. Namun seiring perkembangan teknologi pertanian organik akan banyak inovasi-inovasi yang ditemukan dalam menanggulangi hambatan itu.

Bahan baku pestisida organik

Bagian tumbuhan yang diambil untuk bahan pestisida organik biasanya mengandung zat aktif dari kelompok metabolit sekunder seperti alkaloid, terpenoid, fenolik dan zat-zat kimia lainnya. Bahan aktif ini bisa mempengaruhi hama dengan berbagai cara seperti penghalau (repellent), penghambat makan (anti feedant), penghambat pertumbuhan (growth regulator), penarik (attractant) dan sebagai racun mematikan. Sedangkan, pestisida organik yang terbuat dari bagian hewan biasanya berasal dari urin. Beberapa mikroorganisme juga diketahui bisa mengendalikan hama yang bisa dipakai untuk membuat pestisida. Berikut ini beberapa bahan yang sering digunakan untuk membuat pestisida organik:
Jenis Tanaman Bagian yang digunakan Hama/Penyakit yang dikendalikan
Adas Biji Kutu (beras, sereal, palawija)
Alang-alang Rimpang Antraknosa pada buncis
Babandotan Seluruh tanaman Nematode pada kentang
Bawang-bawangan Umbi Busuk batang pada panili
Bengkoang Biji Ulat pada kubis
Brotowali batang Lalat buahKutu aphids pada cabe
Cabe buah Hama tikus pada tanaman hias
Cengkeh bunga Phytopthora pada lada
Daun wangi Daun Lalat buah, bactrocera dorsalis
Gadung Umbi Tikus/rodentisida
Jahe Rimpang Ulat Plutella xylostella pada kubis
Jambu mete Kulit Ulat jambu mete
Jambu biji Daun Antraknosa
Jarak Buah dan daun Namatoda pada nilam dan jahe, Lalat penggerek daun pada tanaman terung-terungan
Jengkol Buah Walangsangit pada cabe
Jeruk nipis Daun Busuk hitam pada anggrek
Kacang babi Biji Ulat pucuk
Kayu manis Daun Pestisida organic
Kemangi Daun Busuk hitam pada anggrek
Kencur Rimpang Phytoptora pada lada
Acubung Bunga Kutu, ulat tanah
Kenikir Bunga Walangsangit
Kunyit Rimpang Phytoptora pada lada
Lada Biji, daun Hama gudang, Antraknosa pada cabe
Lengkuas Rimpang AntraknosaSemut pada lada
Mimba DaunBiji Antraknosa pada buncis dan cabe, Phytoptora pada tembakau, Belatung, Pengisap polong pada kedelai, Hama pengetam pada kelapa
Mindi Daun Ulat penggerek
Mahoni Biji Kutu daun pada krisanUlat tanah, Walangsangit, wereng coklat
Pacar cina Daun Spodoptera litura pada kedelai dan kubis
Pahitan/kipahit Daun Serangga Tribolium castaneum
Patah tulang Daun Molusca
Pandan Daun Walangsangit
Piretrum Bunga Hama gudang
Saga Biji Hama gudang sitophilus sp
Selasih Daun Lalat buah ( dacus correctus)
Sembung Daun Keong emas
Sereh Batang, daun Herbisida organic
Sirih DaunAbu Antraknosa pada cabeTMV pada tembakau, Hama gudang
Srikaya Biji Thrips pada sedap malam, Kutu daun pada kedelai, kacang panjang, jagung, kapas, tembakau
Sirsak Biji, daun Wereng coklat pada padi
Tembakau Daun, batang Ulat grayak pada famili terung-terungan (tomat, cabe, paprika, terung), Walangsangit
Tembelekan Biji Ulat grayak Spodoptera litura pada kedelai, Penggerek polong
Tuba akar Keong mas, Hama gudang

Macam pestisida organik dan cara membuatnya

Ada berbagai cara atau resep untuk membuat pestisida organik. Hingga saat ini tidak ada standardisasi pembuatan pestisida organik. Resep-resep pestisida organik biasanya didapatkan dari pengalaman para petani, kearifan lokal masyarakat, hasil percobaan para praktisi dan berdasarkan penelitian ilmiah. Berikut ini beberapa cara membuat pestisida organik yang sering digunakan para petani untuk mengendalikan hama dan penyakit.

a. Pengendali serangga penghisap (kepik dan kutu-kutuan)

Siapkan bahan-bahan berikut, daun surian 1 kg, daun tembakau 1kg, daun lagundi 1 kg, daun titonia 1 kg, air kelapa sebanyak 2 liter, gambir 0,5 ons, garam dapur 1 ons dan air panas 500 ml. Kemudian siapkan penumbuk dari batu. Tumbuk daun tembakau, daun surian daun lagundi dan daun titania, aduk hingga rata. Apabila sudah lembut, rendam dalam air kelapa dan aduk-aduk. Kemudian ekstrak campuran tersebut dengan cara diperas dengan kain. Saring kembali hasil perasan dan tambahkan garam lalu kocek larutan. Siapkan cairan gambir dengan cara melarutkan setengah ons gambir dalam 500 ml air panas, lalu saring dengan kain halus. Langkah terakhir campurkan larutan daun-daunan dan larutan gambir. Masukkan dalam botol atau jerigen plastik. Ramuan pestisida organik siap untuk digunakan.
Cara menggunakan pestisida organik ini adalah dengan mengencerkan 500 ml larutan dalam 10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Lakukan penyemprotan pada pucuk tanaman terlebih dahulu kemudian permukaan atas dan bawah daun. Frekuensi penyemprotan dianjurkan dua kali seminggu hingga populasi larva atau kutu berkurang dan tidak membahayakan lagi.

b. Pengendali ulat pemakan daun

Siapkan bahan-bahan yang diperlukan antara lain, air kelapa 2 liter, ragi tape 1 butir, bawang putih 4 ons, deterjen 0,5 ons dan kapur tohor 4 ons. Langkah pertama adalah tumbuk bawang putih hingga halus. Kemudian larutkan deterjen kedalam air kelapa dan aduk hingga merata. Setelah itu, masukan hasil tumbukan bawang putih, ragi tape dan kapur tohor. Saring campuran tersebut dengan kain halus. Langkah terakhir, fermentasikan cairan selama 20 hari dalam wadah tertutup. Pestisida organik pengusir ulat daun siap digunakan.
Cara penggunaan, encerkan larutan pestisida organik sebanyak 500 ml dengan 10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Frekuensi penggunaan sebanyak 2 kali seminggu, lakukan terus sampai serangan ulat menurun sampai taraf aman.

c. Pengendali penyakit cendawan atau jamur

Siapkan bahan-bahan berikut, daun dakinggang gajah 5 ons, lengkuas 3 ons, jahe 3 ons, bawang putih 3 ons dan ekstrak titonia 3 liter. Tumbuk daun galinggang gajah, kemudian parut jahe dan lengkuas. Siapkan larutan daun titonia dengan cara menumbuk daun titonia hingga halus dan campurkan dengan 3 liter air, kemudian saring dengan kain halus. Setelah itu, masukkan bahan-bahan yang telah ditumbuk dan diparut ke dalam larutan titonia, aduk hingga merata. Saring dan peras campuran tersebut. Pestisida organik pengendali cendawan atau jamur siap digunakan.
Penggunaan, encerkan 500 ml pestisida organik ini dengan 10 liter air, aduk hingga rata dan masukkan kedalam tangki semprotan. Penyemprotan dilakuan pada seluruh bagian tanaman seperti pucuk, daun dan batang. Frekuensi penggunaan yang dianjurkan 2 kali dalam seminggu hingga serangan melemah.

d. Pengendali penyakit yang disebabkan bakteri

Siapkan bahan-bahan berikut, daun sirih satu ikat, kunyit 2 ons, bawang putih 3 ons dan ekstrak daun titonia 3 liter. Tumbuk bahan-bahan tersebut satu per satu atau secara bersamaan. Rendam dalam ekstrak daun titonia selama beberapa menit, kemudian saring dengan kain halus. Pestisida pengusir bakteri siap digunakan. Cara penggunaannya dengan mengencerkan 500 ml larutan dalam 10 liter air. Frekuensi penggunaan 2 kali dalam seminggu.

e. Pengendali serangga penghisap, kepik dan kutu-kutuan dari daun inggu

Siapkan daun inggu 1,5 kg, bunga tahi ayam 1,5 kg, gambir 0,5 ons, air kelapa 3 liter dan air bersih panas 500 ml. Daun inggu dan bunga tahi ayam ditumbuk hingga halus dan rendam dalam air kelapa. Peras dan saring campuran tersebut. Lalu siapkan larutan gambir dengan air panas yang sudah disaring. Camprkan dual larutan tersebut, pestisida organik daun inggu siap digunakan.
Cara penggunaan, 1 liter pestisida organik diencerkan dengan 10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Semprot seluruh bagian tanaman, frekuensi penyemprotan seminggu dua kali.

f. Pengendali antraknosa pada tanaman cabe

Siapkan daun galinggang gajah 2,5 ons; daun tembakau 2,5 ons; daun thitonia 2,5 ons; daun lagundi 2,5 ons; garam 1 ons dan gambir 3 buah. Tumbuk halus daun galinggang, tembakau,thitonia dan daun lagun. Kemudian masukan kedalam ember yang berisi 1 liter air bersih, lalu tambahkan garam dan biarkan selama satu malam. Setelah itu saring larutan tersebut dan peras airnya sampai kering. Cairkan tiga buah gambir dengan satu gelas air panas dan campurkan kedalam larutan, aduk hingga merata. Pestisida organik untuk mengendalikan antraknosa yang biasa menyerang tanaman cabe siap digunakan.
Cara menggunakannya, masukkan larutan di atas ke dalam tangki semprot 15 liter. Penuhkan dengan air bersih dan aduk-aduk. Penggunaan pestisida organik ini sebiknya dilakukan sejak tanaman cabe mulai berbuah, semprotkan seminggu sekali. Kemudian amati tanaman, apabila ada buah cabe yang terserang antraknosa segera dipetik dan dibuang keluar lahan. Hendaknya penyemprotan dilakukan pagi atau sore hari. Air semprotan harus berbentuk kabut biar merata dan teknik penyemprotan dilakukan dari bawah ke atas. Pada musim hujan kita bisa menambahkan garam sebanyak 2,5 ons lagi pada larutan.
Berdasarkan pengalaman, pestisida organik ini bisa mengendalikan serangan antraknosa sampai 80 %. Ramuan tidak tahan lama dan masih bisa dipakai selagi aromanya masih khas. Apabila aromanya sudah berubah maka kemampuannya pun sudah menurun. Sebaiknya dibuat setiap kali kita akan memakai.

Sumber: alamtani.com

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau