• home

SOP Budidaya Jagung Organik (SPO)

Jagung adalah salah satu tanaman pangan yang sangat penting keberadaanya, terutama di daerah yang menjadikan jagung sebagai bahan pangan Utama. Nah berikut ada tata cara (SOP) budidaya Jagung secara Organik Versi SPO.

Artikel, Dasar Organik, Organik, Panduan Budidaya, Pertanian Organik, Pestisida Organik, Pupuk Organik, ROMA, ROTAN, Sayuran Organik, Tips dan Trik, Jagung Organik
Perlakuan Lahan :
  1. Dua minggu sebelum lahan ditanami tebarkan dolomit 1 ton / Ha secara merata
  2. Masukan pupuk kandang (ayam/sapi/kambing) sebanyak 2-4 ton / Ha kemudian kocor diatasnya dengan ROTAN 3 + TRICHODERMA (dosis 1 liter Rotan 3 + 1 Liter Tricho + gula 1 kg + air 200 liter)
  3. Bajak lahan sedalam 20-30 cm dan biarkan selama 5 hari
  4. Kocor dengan ROMA+Bawang putih+Tembakau+Cabe rawit+Kluwih dengan dosis 1 liter + 50 liter air, biarkan selama 5 hari
  5. Buat parit setiap jarak 3m dengan kedalaman 20 cm untuk drainase

Perlakuan benih :
  1. Benih biji rendam dengan air panas (70 derajat) selama 5-10 menit kemudian tiriskan
  2. Rendam benih ke dalam larutan ROTAN 3 + TRICHODERMA + PGPR (dosis 10 ml Rotan+10 ml Trichoderma+PGPR 10 ml+gula 3 sendok+air 1 liter) selama 12 jam

Penanaman benih :
  1. Tugal / bual lobang sedalam 3-5 cm dengan jarak antar baris 70-75 cm dan jarak dalam baris 20-25 cm
  2. Masukan benih satu lobang 1 biji
  3. Tutup lobang dengan pupuk kandang yang sudah di fermentasi sebelumnya
  4. ( pupuk kandang 100 kg + dedak 5 kg + ROTAN ½ liter + TRICHODERMA ½ liter + gula ½ kg cair+air 10 liter kemudan di tutup rapat selama 14 hari)
  5. Kocor lobang dengan campuran Rotan 10 ml + Trichoderma 10 ml + PGPR 100 ml + Gula 1 ons + air 14 liter / 1 tangki

Pemupukan :
  1. 3 hari setelah tanam kocor dengan ROMA +++ (dosis 200 ml+air 14 liter)
  2. 7 hari setelah tanam kocor dengan POC Vegetatif + Tricho (dosis 200 ml+air 14 liter)
  3. 15 hari setelah tanam kocor dengan ROMA +++ (dosis 200 ml+air 14 liter)
  4. 21 hari setelah tanam kocor dengan POC Vegetatif + Tricho (dosis 200 ml+air 14 liter)
  5. 27 hari setelah tanam kocor dengan ROMA +++ (dosis 200 ml+air 14 liter)
  6. 35 hari setelah tanam kocor dengan POC Vegetatif (dosis 200 ml+air 14 liter)
  7. 40 hari setelah tanam kocor dengan ROMA +++ (dosis 200 ml+air 14 liter)
  8. 45 hari setelah tanam kocor dengan POC Generatif (dosis 200 ml+air 14 liter)
  9. 60 hari setelah tanam kocor dengan POC Generatif (dosis 200 ml+air 14 liter)
  10. 75 hari setelah tanam kocor dengan POC Generatif (dosis 200 ml+air 14 liter)

Catatan :
  • Dengan perlakuan di atas insyaallah penyakit bulai tidak terjadi
  • Perlakuan ROMA+++ disesuaikan keadaan, jika ada indikasi hama/penyakit lakukan penyemprotan dengan dosis 200 ml + 14 liter air

Moga berhasil !!

Sumber: https://www.facebook.com/groups/403183829800395/permalink/593478820770894/

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Budidaya Tomat dengan cara Organik

Tomat merupakan komoditas hortikultura yang sangat penting, namun produksinya, baik dalm hal kuantitas maupun kualitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain oleh tanah yang keras, miskin unsur hara mikro, kurangnya hormon, pemupukan tidak berimbang, pengaruh cuaca dan iklim, serangan hama dan penyakit, serta teknis budidaya petani.

Persiapan Lahan :
  1. Buat bedengan pada lahan dengan lebar 1-1,2 meter. Panjannya sesuaikan dengan panjang lahan yang ada, tinggi bedengan 20-30 cm.
  2. Kemudian masukan kohe/kompos 1-2 ton per hektare kemudian campurkan atau aduk hingga rata.
  3. Jangan lupa buat parit antar bedengan sedalam 20-30 cm untuk drainase
  4. Siapkan ROMA + Bawang Putih + Cabe Rawit + Tembakau (1:1/2:1:1/2) dengan dosis dosis 2 gelas + 10 liter air, kocorkan ke bedengan
  5. 3-5 hari kemudian kocorkan trichoderma dengan dosis 1 liter+100 liter air. Semakin basah semakin bagus
  6. Kocorkan Rotan 3 dengan dosis 1 liter+100 liter air (bisa dibarengkan dengan trichoderma aplikasinya)
  7. Tutup bedengan dengan mulsa jika menggunakan mulsa 2 warna maka yg putih diatas.
  8. Tutup sampai rapat ke batas tanah. Biarkan selama 2 minggu
  9. Setelah 2 minggu baru buat lubang pada bedengan dengan jarak 50x60 cm.
Tomat, Artikel, Buah Organik, Pupuk Cair, ROMA, ROTAN, Sayuran Organik, Tips dan Trik

Persiapan benih:
  1. Pilih benih yg baik dengan cara, rendam dengan air garam yg bj airnya 1 (teknik telur mengambang), ambil hanya benih yg tenggelam saja
  2. Cuci bersih sampai air garam hilang, kemudian rendam dengan air hangat (70 derajat) dengan tinggi 0.5-1 cm dari batas atas permukaan benih, biarkan sampai air dingin dengan sendirinya.
  3. Rendam dengan Rotan3 + PGPR (dosis 10 ml rotan + 10 ml pgpr + air 20 ml) selama 24 jam
  4. Semaikan benih pada media tanam tanah+kompos (bokashi) 1:1 yang sudah difermentasi sebelumnya minimal 7 hari
  5. Siram dengan rotan3 + PGPR + Trichoderma setiap hari sampai tumbuh 5-6 daun (dosis 10 ml:10 ml:10 ml dan air 3 liter)
  6. Pemindahan ke lahan :
  7. Kocor lobang pada bedengan dengan rotan3+trichoderma+pgpr+air dosis 1:1:1:10 sampai basah dan menjadi lembab sehari sebelumnya
  8. pindahkan benih yg sudah berdaun 5-6 ke lobang pada pagi atau sore hari. (yg terbaik pada sore hari.) sebaiknya di siram setelah penanaman agar tidak terlalu stress

Pemupukan:
Masa Vegetatif
  1. Siapkan Rotan3 + POC urine/daun + mol batang pisang + Mol sabut kelapa + pgpr (100 ml : 10 liter : 2 liter : 1 liter : 1 liter) dosis 200 ml + 14 liter air. Kocor pertama pada usia 7 Hst (2 minggu sekali.
  2. Siapkan Roma + bawang putih + Cabe rawit merah (1 iter:1 ons:2 ons), dosis 1 gelas + 10 liter air, semprot mulai 14 hst ( 2 minggu sekali)
  3. Lakukan perempelan tunas air umur 30-35 hst, Jika ingin lebih lebat dan rimbun sebaiknya lakukan prunning pda tunas juga. (lakukan pada pagi hari)

Masa generative
  1. Siapkan Rotan3 + POC urine/daun + mol batang pisang + Mol sabut kelapa + mol buah (100 ml : 5 liter : 10 liter : 15 liter : 5 liter) dosis 200 ml + 14 liter air. Kocor pertama pada saat mulai muncul bunga pertama (2 minggu sekali)
  2. Siapkan Roma + bawang putih + Cabe rawit merah + tembakau (1 iter:1 ons:2 ons : 1 genggam), dosis 1 gelas + 10 liter air, semprot berselingan dengan pupuk selang seminggu

Catatan :
dengan perlakuan rutin pupuk dan roma insyaallah tanaman sehat dan terhindar dari hama/penyakit.
mau ada hama atau tidak roma trs diaplikasikan berselangan dengan pemupukan

Sumber:

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Tips - Mengatasi busuk daun pada Sawi (Caisim)

Apakah anda pernah mengalami penyakit busuk daun saat bercocok tanam Sawi? yang memang pada musim hujan, banyak daun sawi/caisim yang busuk, nah jika daun yang busuk kemudian menempel ke daun lainnya maka akan menular dengan cepat. 

ROMA, Artikel, Pertanian, Pupuk, Sayuran, Organik, Tips dan Trik, Caisim, Sawu
Masalah seperti ini sangat penting untuk segera diatasi. Hal ini tentu saja dikarenakannilai utama dari tanaman sawi/caisim ini adalah daunnya. nah jika daunnya mengalami masalah maka nilai ekonominya juga akan menurun drastis.

Nah dari group Solusi Pertanian Organik, saya mendapatkan solusi menarik yang bisa di aplikasikan/terapkan jika masalah ini terjadi. yaitu dengan mengaplikasikan ROMA. Yup, bahasan tentang roma ini pernah kita bahas sebelumnya. silahkan klik disini jika belum membacanya "".
Menurut Manjel Dech (Pembuat ROMA), aplikasi/penggunaan ROMA ditambah bawang putih kemudian cabe rawit dan jahe serta ditambah telur Insya Allah bisa mengatasi masalah ini. Namun dengan catatan aplikasikan ramuan ini seminggu sekali kalau musim hujan.

Nah semoga Tips ini dapat bermanfaat

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Tips - Cara Budidaya Sawi (Caisim) Secara Organik

Tanaman Sawi (Caisim) termasuk dalam kelas Dicotyledonae, ordo Rhoeadales (Brassicales), termasuk kedalam genus Brassica, dan masuk kedalam spesies Brassica Juncea. Tanaman ini pada umumnya memiliki daun yang panjang, tidak memiliki bulu, halus dan tidak berkrop. Ada bermacam-macam tanaman Sawi (Caisim), diantaranya Sawi (Caisim) putih, Sawi (Caisim) keriting, Sawi (Caisim) hijau, Sawi (Caisim) huma dan Sawi (Caisim) China. Sawi (Caisim) yang paling dikenal adalah Sawi (Caisim) China yang suka dipakai di dalam hidangan baso.


Sawi (Caisim) dapat ditanam dengan cara tumpang sari dengan tanamah lain misal kangkung, bayam, wortel, atau bawang daun. Di samping itu, Sawi (Caisim) dapat pula ditanam dengan cara monokultur. Sawi (Caisim) memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan diantaranya melancarkan pencernaan, membersihkan darah, menyembuhkan sakit kepala, dapat memperbaiki fungsi ginjal, menghilangkan gatal tenggorokan pada orang yang sedang batuk.

Berikut beberapa teknik dalam budidaya Sawi (Caisim) secara organik:

1. Pembenihan dan pengolahan lahan
Untuk setiap hektar lahan dibutuhkan kira-kira 750 gram benih  Sawi (Caisim). Benih Sawi (Caisim) memiliki bentuk bulat dan ukurannya yang sangat kecil. Benih yang akan digunakan sebagai benih harus diperhatikan lama penyediaan, temperatur, jenisnya, tingkatan kandungan air dan tempat penyimpanannya.

Lahan yang akan digunakan sebagai lahan penanaman Sawi (Caisim), harus bersih dari batu-batuan, rumput, semak belukar, dan pohon yang dapat menghambat perkembangan Sawi (Caisim). Sebab tanaman Sawi (Caisim) sangat membutuhkan cahaya matahari langsung.

Tanah disiapkan dengan menambahkan pupuk organik, misalnya kompos atau pupuk kandang. Jika PH tanah kurang, sebaiknya dilakukan pengapuran lebih dulu untuk menetralkannya.

2. Pembenihan
Pembenihan dilaksanakan beriringan dengan penggarapan tanah untuk penanaman. Untuk pembibitan, biasanya disiapkan tempat tertentu dengan panjang maupun lebar kurang lebih 1 meter. Pembenihan sebaiknya dilaksanakan saat curah hujan lebih dari 200 milimeter setiap bulan atau ketika musim hujan.

Dalam tempat pembenihan, lebih dulu ditebar benih, tempatnya sebelumnya ditebari dengan pupuk kandang, urea, TSP dan KCI. Pemupukan dilakukan dua minggu sebelum penanaman benih. Saat benih tanaman Sawi (Caisim) ditebar, lalu benih ditutup oleh tanah setebal 2 centimeter, lalu siram dengan air secukupnya. Seteah tiga sampai lima hari, benih Sawi (Caisim) akan tumbuh. Dalam sebulan, bibit siap untuk pindahkan ke lahan sebenarnya pembesaran.

3. Penanaman dan perawatan
Penanaman tanaman Sawi (Caisim) dapat dilakukan di tempat yang terbuka maupun memakai lahan khusus dengan batas-batas tertentu di sisi kanan dan kirinya. Lahan tempat penanaman bibit seminggu sebelumnya harus dipupuk lebih dulu. Anda bisa menggunakan pupuk kandang, urea, TSP dan KCI sesuai dengan keperluan.

Jaraknya penananampun pun tak boleh sembarangan. Jarak tanam antara yang satu dengan yang lain yaitu sekitar antara 20 sampai 30 cm, dengan intensitas penanaman bibit maksimal 10 cm. Yang harus diperhatikan dalam merawat tanaman Sawi (Caisim) adalah musim. Musim sangat penting untuk menetapkan waktu penyiraman.

Pada musim kemarau, penyiraman dilakukan dua kali sehari yakni saat pagi dan sore. Sedangkan pada musim penghujan, cukup satu kali saja yaitu pada saat sore hari. Namun apabila air dirasa berlebihan, maka tak perlu penyiraman seluruhnya. Selain penyiraman, Budidaya Sawi juka perlu dilakukan perenggangan. Perenggangan adalah pencabutan tanaman Sawi (Caisim) yang tumbuhnya terlalu berdekatan.

Selain perenggangan, perlu juga dilakukan langkah penyulaman, yaitu penggantian tanaman Sawi (Caisim) yang mati/hilang baik disebabkan oleh hama, penyakit, maupun batal tumbuh. Selanjutnya dilakukan penyiangan. Penyiangan merupakan proses menjauhkan gangguan tanaman pengganggu, misalnya rumput atau tanaman mengganggu lai yang dapat menghalangi pertumbuhan Sawi (Caisim).

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Mengenal Sayuran Sawi (Caisim) Organik

Budidaya Sawi (Caisim) organik merupakan salah satu budidaya sayuran yang sangat tepat untuk dikembangkan di Indonesia sebagai bisnis sayuran. Sawi (Caisim) merupakan salah satu tanaman sayur-sayuran yang mudah untuk dibudidayakan. Hal inilah yang membuat banyak kalangan yang menyukai dan menggunakan/memanfaatkan sayuran ini.

Sayuran Organik
Dilihat dari beberapa aspek seperti aspek klimatologis, aspek teknik, aspek ekonomis dan aspek sosial, Sawi (Caisim) mempunyai cukup banyak kelebihan dan manfaat untuk dijadikan usaha di Indonesia. Orang asing menyebut Sawi (Caisim) dengan mustard. Dalam perdagangan internasional, perdagangan Sawi (Caisim) disebut dengan Indian mustard (Sawi india), Chinese mustard (Sawi Cina),  Green mustard (Sawi Hijau).

Tanaman Sawi yang termasuk kedalam kelas Dicotyledonae, ordo Rhoeadales, dan dari genus Brassica. Tanaman ini umumnya memiliki daun panjang, mempunyai daun yang halus, tidak memiliki bulu serta tidak berkrop. Ada bermacam-macam tanaman Sawi (Caisim), diantaranya Sawi (Caisim) putih, Sawi (Caisim) hijau, Sawi (Caisim) keriting, Sawi (Caisim) huma dan Sawi (Caisim) China. Sawi (Caisim) yang paling dikenal adalah Sawi (Caisim) China yang suka dipakai di dalam hidangan baso.

Sebenarnya Sawi (Caisim) bukanlah tanaman asli Indonesia. Sawi (Caisim) berasal dari daerah lain di Asia. Tapi karena di Indonesia memiliki iklim, cuaca, juga tanahnya sehingga cocok untuk tumbuh kembangnya Sawi (Caisim) di Indonesia. Sawi (Caisim) bisa tumbuh di tempat yang berudara dingin maupun panas sehingga bisa ditanam di dataran rendah Maupun tinggi. Namun, untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik, Sawi (Caisim) harus ditanam di dataran tinggi.

Wilayah penanaman Sawi (Caisim) yaitu mulai dari ketinggian 5 s/d 1.200 meter dpl. Akan tetapi idealnya, Sawi dibudidayakan di wilayah yang memiliki ketinggian 100 s/d 500 meter dpl. Tanaman Sawi (Caisim) merupakan tanaman yang tahan terhadap air hujan sehingga bisa ditanam sepanjang tahun. Hanya saja saat kemarau mesti disiram secara teratur. Sawi (Caisim) juga merupakan tanaman yang dalam pertumbuhannya memerlukan udara yang sejuk.

Sawi (Caisim) akan lebih cepat tumbuh bila ditanam di dalam kondisi yang lembap. Tanaman ini cocok jika ditanam di akhir musim penghujan karena Sawi (Caisim) adalah tanaman yang tak suka terhadap air yang menggenang. Sebab dalam waktu singkat Sawi (Caisim) akan membusuk. Sawi (Caisim) cocok ditanam di tanah yang tak padat, mengandung zat hara dan humus yang besar jumlahnya, subur dan mempunyai sirkulasi air yang baik. Derajat keasaman (pH) tanah yang optimal untuk pertumbuhan Sawi (Caisim) yaitu kira-kira pH 6 hingga pH 7.

Sawi (Caisim) dapat ditanam dengan cara tumpang sari dengan bayam, kangkung, wortel, maupun bawang daun. Di samping itu, Sawi (Caisim) dapat pula ditanam dengan cara monokultur. Sawi (Caisim) memiliki beberapa manfaat yaitu melancarkan pencernaan, menyembuhkan sakit kepala, membersihkan darah, memperbaiki fungsi ginjal, menghilangkan tenggorokan gatal pada orang yang batuk.

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Cara Membuat media persemaian untuk tanaman hortikultura

Media persemaian adalah tempat untuk menumbuhkan benih atau biji menjadi bibit tanaman yang siap untuk dipindahkan ke lapangan. Ada banyak tanaman hortikultura yang dibudidayakan dengan melalui tahap penyemaian terlebih dahulu. Tujuannya untuk mengurangi kematian akibat tanaman yang belum siap dengan kondisi lapangan. Baik itu melindunginya dari cuaca ataupun gangguan lainnya.

Tanaman yang memerlukan tahap penyemaian biasanya yang mempunyai siklus panen menengah hingga panjang dan memiliki benih yang kecil-kecil. Untuk tanaman dengan siklus panen cepat seperti bayam dan kangkung, tahap penyemaian menjadi kurang ekonomis. Sedangkan untuk tanaman yang memiliki biji besar, sebaiknya ditanam dengan ditugal. Tanaman yang berbiji besar relatif tahan terhadap kondisi lingkungan karena didalamnya telah terkandung zat yang berguna menopang awal pertumbuhan. Beberapa jenis hortikultura yang biasa disemaikan antara lain tomat, cabe, sawi, selada dan sebagainya.

Proses penyemaian memerlukan tempat dan perlakuan khusus yang berbeda dengan kondisi lapangan. Untuk itu diperlukan tempat persemaian yang terpisah dengan areal tanam. Tempat persemaian bisa dibuat permanen ataupun sementara. Media persemaian bisa berupa tray, tercetak, polybag atau bedengan biasa. Berikut ini tahapan-tahapan mempersiapkan media persemaian.

Menyiapkan media tanam

Hal pertama yang harus disiapkan adalah media tanam. Sebagai tempat benih/biji berkecambah media tanam ini harus terjamin dari segi ketersedian nutrisi, kelembaban dan struktur baik. Media persemaian yang alami terdiri dari campuran tanah dan bahan-bahan organik yang memiliki kandungan hara tinggi. Selain itu ketersediaan air dalam media persemaian harus mencukupi atau tingkat kelembaban yang relatif lebih tinggi dari areal tanam biasa.

Tanah yang baik untuk media persemaian diambil dari bagian atas (top soil). Sebaiknya ambil tanah dengan kedalaman tidak lebih dari 5 cm. Tanah yang baik merupakan tanah hutan, atau tanah yang terdapat di bawah tanaman bambu. Tanah tersebut memiliki karakteristik yang baik, terdiri dari campuran lempung dan pasir. Lempung benrmanfaat sebagai perekat media tanam sedangkan pasir bermanfaat untuk memberikan porositas yang baik.

Untuk memperkaya kandungan hara bisa ditambahkan dengan pupuk organik. Bisa berupa pupuk kandang yang telah matang atau pupuk kompos. Hal yang penting adalah haluskan pupuk tersebut dengan cara diayak. Struktur yang kasar tidak baik untuk pertumbuhan benih/biji yang baru berkecambah karena perakarannya masih terlalu lembut.

Campurkan bagian tanah dan pupuk organik dengan rasio 1:1. Atau bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Cirinya, setelah dicampurkan ditambah air teksturnya bisa solid (bisa dikepal tidak ambrol) namun tidak becek.

Membuat media persemaian berbentuk tray/polybag/cetak

  • Campurkan tanah bagian atas (top soil) dengan pupuk organik (pupuk kompos atau pupuk kandang yang telah matang) komposisinya 1:1.
  • Untuk persemaian tray, masukkan campuran media tanam tersebut kedalam tray, padatkan secukupnya agar media bisa mencengkrap tanaman. Tray sudah siap untuk media tanam.
  • Untuk persemaian polybag, campurkan media tanam yang telah dibuat dengan arang sekam dengan komposisi 1:1. Ambil polybag dengan ukuran yang disesuaikan dengan ukuran bibit tanaman. Media persemaian polybag siap untuk ditanami.
  • Untuk persemaian cetak, siram campuran media tanam yang telah dibuat tersebut dengan air secukupnya. Air berfungsi untuk menyolidkan campuran agar mudah dibentuk dan tidak ambrol. Kemudian gunakan cetakan untuk membentuk adonan menjadi bentuk kotak-kotak kecil. Lubangi bagian atas kotak-kotak tersebut sedalam 1-2 cm untuk memasukkan benih. Media persemaian siap ditanami.

Membuat media persemaian berbentuk bedengan

  • Campurkan tanah bagian atas (top soil) dengan pupuk organik dengan komposisi 1:1.
  • Kemudian bentuk bedengan dan letakan campuran tadi diatas permukaan bedengan. Ketebalan campuran hendaknya 5-7 cm, ketebalan ini optimal untuk tanaman yang baru tumbuh.
  • Siram bedengan dengan air secukupnya dan tebarkan benih di atas bedengan tersebut.
  • Buat tiang penyangga atau bambu yang dilengkungkan, kemudian tutup bedengan dengan paranet.
  • Penutup bedengan bisa dibuat permanen dengan paranet, atau dibuat dengan sistem tutup buka dengan plastik bening. Sistem tutup buka berguna pada musim hujan agar tanaman tidak terkena kucuran air hujan secara langsung. Benih yang cocok disemaikan di persemaian tipe bedengan adalah sayuran daun bersiklus pendek seperti sawi, caisim, pakchoi, dll.

Sumber: www.alamtani.com

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Cara membuat pupuk bokashi

Pupuk bokashi merupakan pupuk kompos yang dibuat dengan cara fermentasi. Bahan baku pupuk bokashi terdiri dari sisa tanaman, kotoran ternak, sampah dapur atau campuran material organik lainnya. Pupuk bokashi dibuat dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme efektif (EM4) sebagai dekomposernya.

Bokashi dipopulerkan pertamakali di Jepang sebagai pupuk organik yang bisa dibuat dengan cepat dan efektif. Terminologi bokashi diambil dari istilah bahasa Jepang yang artinya perubahan secara bertahap. Sedangkan EM4 merupakan jenis mikroorganisme dekomposer untuk membuat pupuk bokashi. EM4 dipopulerkan oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Jepang.
Proses pembuatan pupuk bokashi relatif lebih cepat dari pengomposan konvensional. Bokashi sudah siap dijadikan pupuk dalam tempo 1-14 hari sejak dibuat, tergantung dari bahan baku dan metode yang digunakan. Membuat bokashi sangat mudah, bisa dilakukan dalam skala rumah tangga maupun skala pertanian yang lebih besar. Berikut ini kami jelaskan tahap-tahapnya.

Menyiapkan mikroorganisme dekomposer (EM4)

Hal pertama yang harus dilakukan untuk membuat pupuk bokashi adalah menyiapkan mikroorganisme dekomposernya. Salah satu dekomposer bokashi yang paling populer adalah EM4. Larutan EM4 terdiri dari mikroorganisme yang diisolasi secara khusus untuk menguraikan sampah organik dengan cepat. Mikroorganisme yang terkandung dalam EM4 terdiri dari bakteri fotosintesis, bakteri asam laktat (Lactobacillus sp), Actinomycetes dan ragi.
EM4 dijual dipasaran dalam bentuk cairan kental yang telah dikemas dalam berbagai ukuran. Untuk membuat dekomposer bokashi, kita cukup mengencerkan cairan tersebut dan mencampurkannya dengan bahan baku bokashi. Selain membelinya, kita juga bisa membuat cairan mikroorganisme efektif (EM) sendiri. Berikut langkah-langkahnya:
  • Siapkan bahan-bahan berikut: pepaya dan kulitnya 0,5 kg, pisang dan kulitnya 0,5 kg, nenas dan kulitnya 0,5 kg, kacang panjang segar 0,25 kg, sayuran hijau (kangkung/bayam) 0,25 kg, gula pasir 1kg dan ragi tape 5 butir.
  • Campur pepaya, nenas, pisang, kacang panjang dan sayuran dan lumatkan bahan-bahan tersebut dengan blender.
  • Masukkan bahan-bahan yang telah dilumat kedalam ember yang ada penutupnya. Lalu tambahkan 1 liter air, gula pasir dan ragi tape. Aduk perlahan hingga merata. Kemudian tutup ember dengan rapat, diamkan selama 7 hari.
  • Setelah tujuh hari akan terbentuk cairan berwarna coklat gelap. Saring cairan tersebut, air hasil saringan merupakan larutan efektif mikroorganisme (EM) yang bisa dijadikan dekomposer pupuk bokashi. Simpan cairan dalam wadah/botol. Larutan EM bisa dipakai hingga 6 bulan, sedangkan ampasnya bisa digunakan sebagai kompos.

Membuat pupuk bokashi skala pertanian (1 ton)

Pupuk bokashi bisa dibuat dari hijauan sisa panen dan limbah peternakan. Waktu yang diperlukan untuk membuat bokashi skala besar dan skala kecil sama saja, yang membedakannya adalah volume bahan bakunya. Berikut tahapan membuat bokashi untuk penggunaan pertanian:
  • Siapkan bahan-bahan berikut: 200 kg jerami atau sisa hijauan, 600 kg kotoran ternak yang telah kering, 50 kg serbuk gergaji/dedak, 50 kg arang sekam, 100 kg humus (top soil, berasal dari tanah hutan lebih baik), 1 liter larutan dekomposer (EM4) dan 1 kg gula pasir.
  • Pilih tempat fermentasi yang terlindung dari air hujan dan sengatan matahari langsung. Buat lubang berbentuk persegi panjang di atas tanah tersebut dengan lebar 1 meter, panjang 2 meter dan dalam 30-50 cm, atau sesuaikan ukuran lubang dengan banyaknya bahan baku.
  • Cacah jerami atau hijauan kecil-kecil, campuran bahan-bahan organik yang telah disiapkan, aduk hingga merata dengan cangkul atau sekop. Bila perlu (misalnya tanah Anda asam), tambahkan abu (Mg) dan kapur pertanian (Ca) untuk memperkaya kandungan hara pupuk bokashi yang dihasilkan.
  • Encerkan larutan EM4, ambil 1 liter larutan campurkan dengan 200 liter air bersih dan 1 kg gula pasir. Kemudian siramkan pada campuran bahan baku sambil diaduk. Atur kelembaban hingga mencapai 30-40%. Untuk memperkirakan tingkat kelembaban, kepalkan campuran hingga bisa menggumpal tapi tidak sampai mengeluarkan air. Apabila kelembabannya kurang, tambahkan air secukupnya.
  • Tutup rapat lubang fermentasi dengan plastik atau terpal, diamkan hingga 7-14 hari. Perlu diingat, kontrol suhu fermentasi hingga maksimal 45oC. Apabila melebihi suhu tersebut, aduk dengan cangkul agar suhunya turun.
  • Setelah 14 hari, biasanya pupuk bokashi sudah terbentuk dan bisa diaplikasikan langsung.

Sumber: Alam Tani

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Pelajari Cara membuat Pupuk Organik Cair (POC)

Pada postingan ini, kita akan membahas cara membuat pupuk organik cair. Pupuk organik cair dalam pembahasan ini mengacu pada pengertian pupuk organik dan pupuk kompos, Secara singkat bisa dikatakan pupuk organik cair adalah pupuk berfasa cair yang dibuat dari bahan-bahan organik melalui proses pengomposan. 

Mengapa harus ditekankan demikian? Karena kami berpandangan pupuk organik tidak hanya mempunyai fungsi sebagai penyedia hara, melainkan juga berfungsi memperbaiki lingkungan sekitar tanaman, baik secara fisik, kimia, maupun biologi. Oleh karena itu pupuk organik bukan sekedar dibuat dari bahan-bahan organik, tetapi juga harus berkerja secara organis juga pada tanaman. Agar bisa dibedakan dengan pupuk organik cair yang banyak beredar dipasaran. Dimana pupuk tersebut dibuat dari bahan organik tetapi pembuatannya tidak melibatkan proses dekomposisi biologi, tetapi lebih menggunakan proses fisik, seperti pemanasan, ekstraksi, penguapan dan lain-lain.

Terdapat dua macam tipe pupuk organik cair yang dibuat melalui proses pengomposan. Pertama adalah pupuk organik cair yang dibuat dengan cara melarutkan pupuk organik yang telah jadi atau setengah jadi ke dalam air. Jenis pupuk yang dilarutkan bisa berupa pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk kompos atau campuran semuanya. Pupuk organik cair semacam ini karakteristiknya tidak jauh beda dengan pupuk organik padat, hanya saja wujudnya berupa cairan. Dalam bahasa lebih mudah, kira-kira seperti teh yang dicelupkan ke dalam air lalu airnya dijadikan pupuk.

Pupuk cair tipe ini suspensi larutannya kurang stabil dan mudah mengendap. Kita tidak bisa menyimpan pupuk tipe ini dalam jangka waktu lama. Setelah jadi biasanya harus langsung digunakan. Pengaplikasiannya dilakukan dengan cara menyiramkan pupuk pada permukaan tanah disekitar tanaman, tidak disemprotkan ke daun.

Kedua adalah pupuk organik cair yang dibuat dari bahan-bahan organik yang difermentasikan dalam kondisi anaerob dengan bantuan organisme hidup. Bahan bakunya dari material organik yang belum terkomposkan. Unsur hara yang terkandung dalam larutan pupuk cair tipe ini benar-benar berbentuk cair. Jadi larutannya lebih stabil. Bila dibiarkan tidak mengendap. Oleh karena itu, sifat dan karakteristiknya pun berbeda dengan pupuk cair yang dibuat dari pupuk padat yang dilarutkan ke dalam air. Tulisan ini bermaksud untuk membahas pupuk organik cair tipe yang kedua.

Sifat dan karakteristik pupuk organik cair

Pupuk organik cair tidak bisa dijadikan pupuk utama dalam bercocok tanam. Sebaiknya gunakan pupuk organik padat sebagai pupuk utama/dasar. Pupuk organik padat akan tersimpan lebih lama dalam media tanam dan bisa menyediakan hara untuk jangka yang panjang. Sedangkan, nutrisi yang ada pada pupuk cair lebih rentan terbawa erosi. Namun di sisi lain, lebih mudah dicerna oleh tanaman.

Jenis pupuk cair lebih efektif dan efesien jika diaplikasikan pada daun, bunga dan batang dibanding pada media tanam (kecuali pada metode hidroponik). Pupuk organik cair bisa berfungsi sebagai perangsang tumbuh. Terutama saat tanaman mulai bertunas atau saat perubahan dari fase vegetatif ke generatif untuk merangsang pertumbuhan buah dan biji. Daun dan batang bisa menyerap secara langsung pupuk yang diberikan melalui stomata atau pori-pori yang ada pada permukaannya.

Pemberian pupuk organik cair lewat daun harus hati-hati. Jaga jangan sampai overdosis, karena bisa mematikan tanaman. Pemberian pupuk daun yang berlebih juga akan mengundang hama dan penyakit pada tanaman. Jadi, ketepatan takaran harus benar-benar diperhatikan untuk mendapatkan hasil maksimal.

Setiap tanaman mempunyai kapasitas dalam menyerap nutrisi sebagai makanannya. Secara teoritik, tanaman hanya sanggup menyerap unsur hara yang tersedia dalam tanah tidak lebih dari 2% per hari. Pada daun, meskipun kami belum menemukan angka persisnya, bisa diperkirakan jumlahnya tidak lebih dari 2%. Oleh karena itu pemberian pupuk organik cair pada daun harus diencerkan terlebih dahulu.

Karena sifatnya sebagai pupuk tambahan, pupuk organik cair sebaiknya kaya akan unsur hara mikro. Sementara unsur hara makro dipenuhi oleh pupuk utama lewat tanah, pupuk organik cair harus memberikan unsur hara mikro yang lebih. Untuk mendapatkan kandungan hara mikro, bisa dipilah dari bahan baku pupuk.

Cara membuat pupuk organik cair

  • Siapkan bahan-bahan berikut: 1 karung kotoran ayam, setengah karung dedak, 30 kg hijauan (jerami, gedebong pisang, daun leguminosa), 100 gram gula merah, 50 ml bioaktivator (EM4), air bersih secukupnya.
  • Siapkan tong plastik kedap udara ukuran 100 liter sebagai media pembuatan pupuk, satu meter selang aerotor transparan (diameter kira-kira 0,5 cm), botol plastik bekas akua ukuran 1 liter. Lubangi tutup tong seukuran selang aerotor.
  • Potong atau rajang bahan-bahan organik yang akan dijadikan bahan baku. Masukkan kedalam tong dan tambahkan air, komposisinya: 2 bagian bahan organik, 1 bagian air. Kemudian aduk-aduk hingga merata.
  • Larutkan bioaktivator seperti EM4 dan gula merah 5 liter air aduk hingga merata. Kemudian tambahkan larutan tersebut ke dalam tong yang berisi bahan baku pupuk.
  • Tutup tong dengan rapat, lalu masukan selang lewat tutup tong yang telah diberi lubang. Rekatkan tempat selang masuk sehingga tidak ada celah udara. Biarkan ujung selang yang lain masuk kedalam botol yang telah diberi air.
  • Pastikan benar-benar rapat, karena reaksinya akan berlangsung secara anaerob. Fungsi selang adalah untuk menyetabilkan suhu adonan dengan membuang gas yang dihasilkan tanpa harus ada udara dari luar masuk ke dalam tong.
  • Tunggu hingga 7-10 hari. Untuk mengecek tingkat kematangan, buka penutup tong cium bau adonan. Apabila wanginya seperti wangi tape, adonan sudah matang.
  • Pisahkan antara cairan dengan ampasnya dengan cara menyaringnya. Gunakan saringan kain. Ampas adonan bisa digunakan sebagai pupuk organik padat.
  • Masukkan cairan yang telah melewati penyaringan pada botol plastik atau kaca, tutup rapat. Pupuk organik cair telah jadi dan siap digunakan. Apabila dikemas baik, pupuk bisa digunakan sampai 6 bulan.


Penggunaan pupuk organik cair

Pupuk organik cair diaplikasikan pada daun, bunga atau batang. Caranya dengan mengencerkan pupuk dengan air bersih terlebih dahulu kemudian disemprotkan pada tanaman. Kepekatan pupuk organik cair yang akan disemprotkan tidak boleh lebih dari 2%. Pada kebanyakan produk, pengenceran dilakukan hingga seratus kalinya. Artinya, setiap 1 liter pupuk diencerkan dengan 100 liter air.

Untuk merangsang pertumbuhan daun, pupuk organik cair bisa disemprotkan pada tanaman yang baru bertunas. Sedangkan untuk menghasilkan buah, biji atau umbi, pupuk disemprotkan saat perubahan fase tanaman dari vegetatif ke generatif. Bisa disemprotkan langsung pada bunga ataupun pada batang dan daun. Setiap penyemprotan hendaknya dilakukan dengan interval waktu satu minggu jika musim kering atau 3 hari sekali pada musim hujan. Namun dosis ini harus disesuaikan lagi dengan jenis tanaman yang akan disemprot.

Pada kasus pemupukan untuk pertumbuhan daun, gunakan pupuk organik cair yang banyak mengandung nitrogen. Caranya adalah dengan membuat pupuk dari bahan baku kaya nitrogen seperti kotoran ayam, hijauan dan jerami. Sedangkan pada kasus pemupukan untuk pertumbuhan buah, gunakan bahan baku pupuk yang kaya kalium dan fosfor, seperti kotoran kambing, kotoran sapi, sekam padi dan dedak. Kandungan setiap jenis material organik bisa dilihat di tabel berikut.

Secara sederhana bisa dikatakan, untuk membuat pupuk perangsang daun gunakan sumber bahan organik dari jenis daun-daunan. Sedangkan untuk membuat pupuk perangsang buah gunakan bahan organik dari sisa limbah buah seperti sekam padi atau kulit buah-buahan.

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Tata cara budidaya Tomat

Tomat (Lycopersicon esculentum L.) merupakan tanaman asli dari Amerika Tengah dan Selatan. Tanaman ini bisa tumbuh optimal pada kisaran suhu 20-27oC dengan curah hujan sekitar 750-1250 mg per tahun. Budidaya tomat bisa dilakukan baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, tergantung dari varietasnya. Secara umum tomat tumbuh pada ketinggian 1-1500 m dpl. Namun budidaya tomat di dataran tinggi biasanya lebih produktif dibanding dataran rendah.
Dewasa ini terdapat lebih dari 400 varietas tomat yang ditanam secara global. Ada varietas yang hanya cocok di dataran tinggi seperti berlian, mutiara dan kada. Ada yang cocok di dataran rendah seperti varietas intan, ratna dan CLN. Ada juga yang bisa ditanam baik di dataran tinggi maupun rendah, seperti GH2 dan GH4.

Memilih benih tomat

Untuk memilih jenis tomat yang akan ditanam hendaknya sesuaikan dahulu dengan karateristik lokasi. Apabila kebun Anda berada di dataran tinggi pilihlah varietas yang cocok untuk dataran tinggi begitu juga sebaliknya.
Benih tomat bisa didapatkan dengan mudah diberbagai toko penyedia saprotan. Apabila Anda sulit mendapatkannya atau harganya terlalu mahal, kita bisa membuatnya sendiri. Caranya dengan menyeleksi buah tomat yang paling baik dari segi ukuran (besar) dan bentuk (tidak cacat).
Langahnya sebagai berikut, pilih buah tomat yang akan dijadikan benih. Kemudian biarkan buah tomat tersebut menua di pohon. Setelah cukup tua ambil bijinya dan bersihkan dari lendir yang menyelubunginya dengan air. Setelah itu rendam dalam air, pilih biji yang tenggelam. Kemudian lakukan seleksi sekali lagi terhadap biji tomat, pilih yang bentuknya sempurna (tidak cacat atau keriput). Setelah itu keringkan dengan dijemur dan simpan dalam wadah yang kering dan steril.

Penyemaian benih tomat

Sebelum ditanam secara luas, benih tomat sebaiknya disemaikan dahulu sampai memiliki daun dan batang yang cukup kuat. Penyemaian hendaknya dilakukan di atas media yang terpisah dengan penanaman masal. Lihat cara membuat media persemaian untuk tanaman hortikultura.
Untuk budidaya tomat, sebaiknya pilih media persemaian dengan ploybag. Hal ini untuk mengurangi resiko tanaman stres ketika dipindahkan. Namun persemaian polybag ini biayanya relatif lebih mahal. Apabila Anda memilih persemaian bedeng, hendaknya hati-hati saat mencabut dan memindahkan bibit. Lamanya penyemaian sampai tanaman siap dipindahkan sekitar 35-40 hari.
Tips untuk persemaian bedengan, buat larikan (garis) diatas media persemaian dengan jarak antar larik 5 cm dan kedalaman larik 1 cm. Kemudian taburkan benih dalam larikan, jangan sampai bertumpuk-tumpuk, sebaiknya jarak antar benih 2-3 cm. Kemudian tutup larikan dengan tanah dan siram secukupnya. Metode pemindahanbisa dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan pencabutan, sebelum benih dicabut siram dengan air untuk melunakan media sehingga akar tidak putus ketika ditarik. Kedua, cara putar yaitu mengambil tanaman dengan tanah disekitarnya.
Tips untuk persemaian polybag/pot, setelah media persemaian dibuat lubangi permukaanya sedalam 1 cm. Kemudian bubuhkan biji tomat satu butir untuk setiap polybag, tutup dengan media tanam. Cara memindahkannya adalah dengan merobek atau melepas polybag/pot. Lalu masukkan tanaman beserta tanah yang terdapat di polybag/pot kedalam lubang tanam.

Pengolahan tanah

Tomat tumbuh baik pada tingkat keasaman tanah pH 5,5-7. Apabila tanah terlalu asam (<5,5), tambahkan dolomit atau kapur pertanian. Manfaat pengapuran selain menaikan pH tanah juga untuk memperbaiki struktur tanah. Dosisnya harus disesuaikan dengan tingkat pH tanah masing-masing.
Bajak atau cangkul tanah hingga gembur kemudian bentuk bedengan dengan ketinggian 30 cm, lebar 1 meter dan pajang mengikuti kontur lahan. Buat jarak antar bedeng selebar 30-40 cm. Kemudian diamkan tanah kira-kira satu minggu.
Setelah itu, berikan pupuk dasar berupa pupuk organik seperti pupuk kandang atau pupuk kompos sebanyak 20 ton per hektar. Aduk hingga merata diatas bedengan. Untuk memperkaya kandungan fosfor bisa ditambahkan pupuk TSP secukupnya (kira-kira 5 gram per tanaman). Untuk budidaya tomat organik, jangan ditambahkan pupuk kimia tapi pupuk dasar harus lebih banyak, kira-kira 30-40 ton per hektar.
Kemudian tutup bedengan dengan mulsa plastik, penutupan dengan mulsa sangat berguna terutama pada musim kemarau. Mulsa plastik berguna untuk mempertahankan kelembaban tanah, mengendalikan gulma dan agar buah tomat tetap bersih tidak menyentuh tanah. Biarkan kembali tanah selama satu minggu sebelum ditanami.

Penanaman bibit tomat

Pertama-tama buat lubang tanam pada mulsa dengan diameter 5-7 cm. Dalam satu bedengan terdapat dua lajur lubang tanam, jarak antar lajur sebesar 70-80 cm dan jarak antar lubang dalam satu lajur 40-50 cm, kedalaman lubang tanam kira-kira 5-7 cm.
Setelah itu masukkan bibit siap tanam. Untuk bibit yang disemai dalam polybag atau pot, lepas terlebih dahulu wadahnya lalu masukkan semua media tanam tanpa mencabut akar tanaman. Kemudian tutup dan ratakan dengan tanah sekitar. Untuk bibit yang ditanam di persemaian bedeng, masukkan tanaman kemudian timbun dengan tanah bekas galian lubang. Ratakan dan siram dengan air untuk menjaga kelembabannya.

Pemeliharaan dan perawatan

Tanaman tomat cukup sensitif dan perlu perawatan yang intensif. Tanaman ini sangat rentan terhadap hama dan penyakit, terutama yang ditanam di dataran rendah. Setelah pemanenan, resiko kerusakan buah tomat masih tinggi sekitar 20-50%. Berikut beberapa perawatan penting apabila kita hendak melakukan budidaya tomat.

a. Penyulaman

Penyulaman berfungsi untuk mengganti tanaman yang gagal tumbuh, baik sakit atau rebah karena cuaca. Penyulaman dilakukan setelah seminggu tomat ditanam. Cabut tanaman yang terlihat tidak sehat (kuning/layu) atau mati. Ganti dengan bibit sisa penyemaian.

b. Penyiangan

Penyiangan dalam budidaya tomat biasanya dilakukan 3-4 kali selama musim tanam. Pada areal tanam yang ditutup mulsa penyiangan bisa lebih jarang lagi. Penyiangan bertujuan untuk mengangkat gulma yang ada di areal tanam. Pertumbuhan gulma akan menganggu tanaman, karena tanaman harus bersaing dalam mendapatkan nutrisi. Selain itu gulma juga mengundang hama dan penyakit yang bisa menyerang tanaman utama.

c. Pemangkasan

Pemangkasan pada tanaman tomat dilakukan setiap minggu. Pemangkasan tunas yang tumbuh pada ketiak daun harus segera agar tidak tumbuh menjadi batang. Pemangkasan tunas muda bisa dilakukan dengan tangan. Namun apabila batang sudah terlalu keras, sebaiknya gunakan pisau atau gunting. Untuk mengatur ketinggian tanaman tomat, ujung tanaman bisa dipotong. Pemotongan ujung tanaman dilakukan setelah terlihat jumlah dompolan buah sekitar 5-7 buah.

d. Pemupukan tambahan

Pada budidaya tomat organik, semprotkan pupuk organik cair yang mempunyai kandungan kalium tinggi pada saat tanaman akan berbunga dan berbuah (fase generatif). Penyemprotan bisa dilakukan setiap minggu. Harus diperhatikan, pupuk organik cair harus diencerkan terlebih dahulu, 1 liter pupuk cair dengan 100 liter air. Penting untuk dicatat, konsentrasi pupuk organik cair tidak boleh melebihi 2%. Selain itu, kita bisa menambahkan pupuk kandang atau kompos setelah tanaman berumur 2-3 minggu dengan dosis satu gengam tangan per tanaman.
Untuk budidaya tomat non-organik, pada usia satu minggu berikan campuran urea dan KCl dengan perbandingan 1:1 sebanyak 1-2 gram per tanaman. Kemudian setelah umur 2-3 minggu berikan kembali urea dan KCl sebanyak 5 gram per tanaman. Bila pada umur lebih dari 4 minggu tanaman masih terlihat kurang gizi berikan urea dan KCl sebanyak 7 garm per tanaman. Perhatikan, pemberian urea dan KCl jangan sampai mengenai tanaman karena bisa melukai tanaman tersebut. Berikan jarak 5-7 cm dari tanaman.

e. Penyiraman dan pengairan

Tanaman tomat tidak terlalu banyak membutuhkan air, namun jangan sampai kekurangan. Kelebihan air dalam budidaya tomat membuat pertumbuhan vegetatif (daun dan batang) yang subur tetapi akan menghambat fase generatif. Sebaliknya, kekuranga air yang berkepanjangan bisa menyebabkan pecah-pecah pada buah tomat yang dihasilkan.
Kekeringan yang panjang bisa menyebabkan kerontokan bunga. Penyiraman hendaknya disesuaikan dengan kondisi cuaca. Bila curah hujan cukup relatif tidak perlu lagi penyiraman. Justru yang harus diperbaiki adalah saluran drainase agar air tidak menggenang disekitar areat tanaman. Pada musim kemarau, penyiraman bisa dilakukan pada pagi hari. Cegah jangan sampai tanah retak-retak kekeringan.

f. Pemasangan lenjeran

Pemasangan lenjeran atau ajir bertujuan sebagai tempat mengikatkan tanaman agar tidak roboh. Lenjeran dibuat dari bambu sepanjang 1,5-2 meter. Lenjeran ditancapkan pada jarak sekitar 10-20 cm dari tanaman. Lenjeran bisa dibiarkan tegak mandiri atau ujungnya diikatkan dengan lenjeran lain yang berdekatan. Pengikatan ujung berguna untuk memperkokoh posisi lenjeran.
Pemasangan lenjeran hendaknya sedini mungkin untuk mencegah luka pada akar tanaman akibat penancapan. Tanaman yang masih kecil akarnya belum menyebar kemana-mana sehingga kemungkinan tertancap kecil. Luka pada akar yang diakibatkan tusukan lenjeran bisa menghambat pertumbuhan dan mengundang penyakit.
Pemasangan lenjeran dilakukan setelah tinggi tanaman berkisar 10-15 cm. Ikatkan tanaman tomat dengan tali plastik pada lenjeran. Model ikatan sebaiknya berbentuk angka 8 agar batang tomat tidak terluka karena bergesekan dengan tiang lenjeran. Ikatan hendaknya jangan terlalu kuat agar tidak menghambat pembesaran batang. Setelah itu, setiap tanaman bertambah tinggi 20 cm ikatkan batang tanaman dengan tali plastik pada lenjeran.

Pengendalian hama dan penyakit

Beberapa jenis hama dan penyakit yang kerap menyerang budidaya tomat antara lain, ulat buah, kutu daun thrips, lalat putih, lalat buah, tungau, nematoda, penyakit layu, bercak daun, penyakit kapang daun, bercak coklat, busuk daun dan busuk buah. Apabila serangannya menggila, hama dan penyakit tersebut bisa disemprot dengan pestisida. Penggunaan pestisida harus bijak, sesuaikan dengan lingkungan sekitar (para petani lain), riwayat penyemprotan dan ikuti petunjuk/dosis penggunaan. Apabila tomat yang akan diproduksi ditujukan untuk pasar organik, hendaknya menggunakan pestisida yang alami. Silahkan lihat cara membuat pestisida organik.
Hama dan penyakit pada budidaya tomat tidak bisa diberantas dengan hanya mengandalkan pestisida saja. Karena manfaat pestisida hanya sementara dan jangka pendek. Selebihnya serangan hama dan penyakit akan tetap datang dan kemungkinan akan lebih resisten. Menaikan dosis penggunaan pestisida mungkin efektif tapi akan menimbulkan efek lingkungan yang buruk dan juga menaikan biaya produksi. Kalau pun harus menggunakan pestisida sebaiknya berganti-ganti merek dengan bahan aktif berbeda.
Untuk menanggulangi hama dan penyakit secara menyeluruh gunakan prinsip-prinsip pengendalian hama terpadu (PHT). Penerapan PHT harus dilakukan secara berkesinambungan. Adapun variabel-variabel yang harus diperhatikan antara lain pemilihan bibit unggul atau varietas yang cocok, benih bebas penyakit, pemberian pupuk berimbang, rotasi tanaman, memanfaatkan predator alami, memanfaatkan tanaman pengusir hama dan terakhir penyemprotan pestisida baik kimia sintetis maupun alami.

Pemanenan budidaya tomat

Budidaya tomat baru bisa dipanen 60-100 hari setelah tanam, tergantung dari varietasnya. Penentuan waktu panen berdasarkan umur tanaman kadang kala tidak efektif. Sebaiknya gunakan pengamatan fisik terhadap tanaman. Tanaman tomat sudah dikatakan siap panen apabila kulit buah berubah dari hijau menjadi kekuning-kuningan, bagian tepi daun menguning dan bagian batang mengering.
Pemetikan hendaknya dilakukan di pagi atau sore hari karena pada siang hari tanaman masih melakukan fotosintesis. Pada keadaan demikian penguapan sedang tingi-tingginya sehingga buah tomat yang dipetik akan cepat layu. Pemanenan bisa dilakukan setiap 2-3 hari sekali. Di Indonesia produktivitas tanaman tomat secara rata-rata mencapai 15,84 ton per hektar. Namun untuk varietas tertentu dan didaerah-daerah tertentu bisa mencapai 25-30 ton per hektar.


Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Pelajari cara Membuat Pestisida Organik

Pestisida organik merupakan ramuan obat-obatan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman yang dibuat dari bahan-bahan alami. Bahan-bahan untuk membuat pestisida organik diambil dari tumbuhan-tumbuhan, hewan dan mikroorganisme. Karena dibuat dari bahan-bahan yang terdapat di alam bebas, pestisida jenis ini lebih ramah lingkungan dan lebih aman bagi kesehatan manusia.

Bila dibandingkan dengan pestisida kimia, pestisida organik mempunyai beberapa kelebihan. Pertama, lebih ramah terhadap alam, karena sifat material organik mudah terurai menjadi bentuk lain. Sehingga dampak racunnya tidak menetap dalam waktu yang lama di alam bebas. Kedua, residu pestisida organik tidak bertahan lama pada tanaman, sehingga tanaman yang disemprot lebih aman untuk dikonsumsi. Ketiga, dilihat dari sisi ekonomi penggunaan pestisida organik memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Produk pangan non-pestisida harganya lebih baik dibanding produk konvensional. Selain itu, pembuatan pestisida organik bisa dilakukan sendiri oleh petani sehingga menghemat pengeluaran biaya produksi. Keempat, penggunaan pestisida organik yang diintegrasikan dengan konsep pengendalian hama terpadu tidak akan menyebabkan resistensi pada hama.

Namun ada beberapa kelemahan dari pestisida organik, antara lain kurang praktis. Pestisida organik tidak bisa disimpan dalam jangka lama. Setelah dibuat harus segera diaplikasikan sehingga kita harus membuatnya setiapkali akan melakukan penyemprotan. Selain itu, bahan-bahan pestisida organik lumayan sulit didapatkan dalam jumlah dan kontinuitas yang cukup. Dari sisi efektifitas, hasil penyemprotan pestisida organik tidak secepat pestisida kimia sintetis. Perlu waktu dan frekuensi penyemprotan yang lebih sering untuk membuatnya efektif. Selain itu, pestisida organik relatif tidak tahan terhadap sinar matahari dan hujan. Namun seiring perkembangan teknologi pertanian organik akan banyak inovasi-inovasi yang ditemukan dalam menanggulangi hambatan itu.

Bahan baku pestisida organik

Bagian tumbuhan yang diambil untuk bahan pestisida organik biasanya mengandung zat aktif dari kelompok metabolit sekunder seperti alkaloid, terpenoid, fenolik dan zat-zat kimia lainnya. Bahan aktif ini bisa mempengaruhi hama dengan berbagai cara seperti penghalau (repellent), penghambat makan (anti feedant), penghambat pertumbuhan (growth regulator), penarik (attractant) dan sebagai racun mematikan. Sedangkan, pestisida organik yang terbuat dari bagian hewan biasanya berasal dari urin. Beberapa mikroorganisme juga diketahui bisa mengendalikan hama yang bisa dipakai untuk membuat pestisida. Berikut ini beberapa bahan yang sering digunakan untuk membuat pestisida organik:
Jenis Tanaman Bagian yang digunakan Hama/Penyakit yang dikendalikan
Adas Biji Kutu (beras, sereal, palawija)
Alang-alang Rimpang Antraknosa pada buncis
Babandotan Seluruh tanaman Nematode pada kentang
Bawang-bawangan Umbi Busuk batang pada panili
Bengkoang Biji Ulat pada kubis
Brotowali batang Lalat buahKutu aphids pada cabe
Cabe buah Hama tikus pada tanaman hias
Cengkeh bunga Phytopthora pada lada
Daun wangi Daun Lalat buah, bactrocera dorsalis
Gadung Umbi Tikus/rodentisida
Jahe Rimpang Ulat Plutella xylostella pada kubis
Jambu mete Kulit Ulat jambu mete
Jambu biji Daun Antraknosa
Jarak Buah dan daun Namatoda pada nilam dan jahe, Lalat penggerek daun pada tanaman terung-terungan
Jengkol Buah Walangsangit pada cabe
Jeruk nipis Daun Busuk hitam pada anggrek
Kacang babi Biji Ulat pucuk
Kayu manis Daun Pestisida organic
Kemangi Daun Busuk hitam pada anggrek
Kencur Rimpang Phytoptora pada lada
Acubung Bunga Kutu, ulat tanah
Kenikir Bunga Walangsangit
Kunyit Rimpang Phytoptora pada lada
Lada Biji, daun Hama gudang, Antraknosa pada cabe
Lengkuas Rimpang AntraknosaSemut pada lada
Mimba DaunBiji Antraknosa pada buncis dan cabe, Phytoptora pada tembakau, Belatung, Pengisap polong pada kedelai, Hama pengetam pada kelapa
Mindi Daun Ulat penggerek
Mahoni Biji Kutu daun pada krisanUlat tanah, Walangsangit, wereng coklat
Pacar cina Daun Spodoptera litura pada kedelai dan kubis
Pahitan/kipahit Daun Serangga Tribolium castaneum
Patah tulang Daun Molusca
Pandan Daun Walangsangit
Piretrum Bunga Hama gudang
Saga Biji Hama gudang sitophilus sp
Selasih Daun Lalat buah ( dacus correctus)
Sembung Daun Keong emas
Sereh Batang, daun Herbisida organic
Sirih DaunAbu Antraknosa pada cabeTMV pada tembakau, Hama gudang
Srikaya Biji Thrips pada sedap malam, Kutu daun pada kedelai, kacang panjang, jagung, kapas, tembakau
Sirsak Biji, daun Wereng coklat pada padi
Tembakau Daun, batang Ulat grayak pada famili terung-terungan (tomat, cabe, paprika, terung), Walangsangit
Tembelekan Biji Ulat grayak Spodoptera litura pada kedelai, Penggerek polong
Tuba akar Keong mas, Hama gudang

Macam pestisida organik dan cara membuatnya

Ada berbagai cara atau resep untuk membuat pestisida organik. Hingga saat ini tidak ada standardisasi pembuatan pestisida organik. Resep-resep pestisida organik biasanya didapatkan dari pengalaman para petani, kearifan lokal masyarakat, hasil percobaan para praktisi dan berdasarkan penelitian ilmiah. Berikut ini beberapa cara membuat pestisida organik yang sering digunakan para petani untuk mengendalikan hama dan penyakit.

a. Pengendali serangga penghisap (kepik dan kutu-kutuan)

Siapkan bahan-bahan berikut, daun surian 1 kg, daun tembakau 1kg, daun lagundi 1 kg, daun titonia 1 kg, air kelapa sebanyak 2 liter, gambir 0,5 ons, garam dapur 1 ons dan air panas 500 ml. Kemudian siapkan penumbuk dari batu. Tumbuk daun tembakau, daun surian daun lagundi dan daun titania, aduk hingga rata. Apabila sudah lembut, rendam dalam air kelapa dan aduk-aduk. Kemudian ekstrak campuran tersebut dengan cara diperas dengan kain. Saring kembali hasil perasan dan tambahkan garam lalu kocek larutan. Siapkan cairan gambir dengan cara melarutkan setengah ons gambir dalam 500 ml air panas, lalu saring dengan kain halus. Langkah terakhir campurkan larutan daun-daunan dan larutan gambir. Masukkan dalam botol atau jerigen plastik. Ramuan pestisida organik siap untuk digunakan.
Cara menggunakan pestisida organik ini adalah dengan mengencerkan 500 ml larutan dalam 10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Lakukan penyemprotan pada pucuk tanaman terlebih dahulu kemudian permukaan atas dan bawah daun. Frekuensi penyemprotan dianjurkan dua kali seminggu hingga populasi larva atau kutu berkurang dan tidak membahayakan lagi.

b. Pengendali ulat pemakan daun

Siapkan bahan-bahan yang diperlukan antara lain, air kelapa 2 liter, ragi tape 1 butir, bawang putih 4 ons, deterjen 0,5 ons dan kapur tohor 4 ons. Langkah pertama adalah tumbuk bawang putih hingga halus. Kemudian larutkan deterjen kedalam air kelapa dan aduk hingga merata. Setelah itu, masukan hasil tumbukan bawang putih, ragi tape dan kapur tohor. Saring campuran tersebut dengan kain halus. Langkah terakhir, fermentasikan cairan selama 20 hari dalam wadah tertutup. Pestisida organik pengusir ulat daun siap digunakan.
Cara penggunaan, encerkan larutan pestisida organik sebanyak 500 ml dengan 10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Frekuensi penggunaan sebanyak 2 kali seminggu, lakukan terus sampai serangan ulat menurun sampai taraf aman.

c. Pengendali penyakit cendawan atau jamur

Siapkan bahan-bahan berikut, daun dakinggang gajah 5 ons, lengkuas 3 ons, jahe 3 ons, bawang putih 3 ons dan ekstrak titonia 3 liter. Tumbuk daun galinggang gajah, kemudian parut jahe dan lengkuas. Siapkan larutan daun titonia dengan cara menumbuk daun titonia hingga halus dan campurkan dengan 3 liter air, kemudian saring dengan kain halus. Setelah itu, masukkan bahan-bahan yang telah ditumbuk dan diparut ke dalam larutan titonia, aduk hingga merata. Saring dan peras campuran tersebut. Pestisida organik pengendali cendawan atau jamur siap digunakan.
Penggunaan, encerkan 500 ml pestisida organik ini dengan 10 liter air, aduk hingga rata dan masukkan kedalam tangki semprotan. Penyemprotan dilakuan pada seluruh bagian tanaman seperti pucuk, daun dan batang. Frekuensi penggunaan yang dianjurkan 2 kali dalam seminggu hingga serangan melemah.

d. Pengendali penyakit yang disebabkan bakteri

Siapkan bahan-bahan berikut, daun sirih satu ikat, kunyit 2 ons, bawang putih 3 ons dan ekstrak daun titonia 3 liter. Tumbuk bahan-bahan tersebut satu per satu atau secara bersamaan. Rendam dalam ekstrak daun titonia selama beberapa menit, kemudian saring dengan kain halus. Pestisida pengusir bakteri siap digunakan. Cara penggunaannya dengan mengencerkan 500 ml larutan dalam 10 liter air. Frekuensi penggunaan 2 kali dalam seminggu.

e. Pengendali serangga penghisap, kepik dan kutu-kutuan dari daun inggu

Siapkan daun inggu 1,5 kg, bunga tahi ayam 1,5 kg, gambir 0,5 ons, air kelapa 3 liter dan air bersih panas 500 ml. Daun inggu dan bunga tahi ayam ditumbuk hingga halus dan rendam dalam air kelapa. Peras dan saring campuran tersebut. Lalu siapkan larutan gambir dengan air panas yang sudah disaring. Camprkan dual larutan tersebut, pestisida organik daun inggu siap digunakan.
Cara penggunaan, 1 liter pestisida organik diencerkan dengan 10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Semprot seluruh bagian tanaman, frekuensi penyemprotan seminggu dua kali.

f. Pengendali antraknosa pada tanaman cabe

Siapkan daun galinggang gajah 2,5 ons; daun tembakau 2,5 ons; daun thitonia 2,5 ons; daun lagundi 2,5 ons; garam 1 ons dan gambir 3 buah. Tumbuk halus daun galinggang, tembakau,thitonia dan daun lagun. Kemudian masukan kedalam ember yang berisi 1 liter air bersih, lalu tambahkan garam dan biarkan selama satu malam. Setelah itu saring larutan tersebut dan peras airnya sampai kering. Cairkan tiga buah gambir dengan satu gelas air panas dan campurkan kedalam larutan, aduk hingga merata. Pestisida organik untuk mengendalikan antraknosa yang biasa menyerang tanaman cabe siap digunakan.
Cara menggunakannya, masukkan larutan di atas ke dalam tangki semprot 15 liter. Penuhkan dengan air bersih dan aduk-aduk. Penggunaan pestisida organik ini sebiknya dilakukan sejak tanaman cabe mulai berbuah, semprotkan seminggu sekali. Kemudian amati tanaman, apabila ada buah cabe yang terserang antraknosa segera dipetik dan dibuang keluar lahan. Hendaknya penyemprotan dilakukan pagi atau sore hari. Air semprotan harus berbentuk kabut biar merata dan teknik penyemprotan dilakukan dari bawah ke atas. Pada musim hujan kita bisa menambahkan garam sebanyak 2,5 ons lagi pada larutan.
Berdasarkan pengalaman, pestisida organik ini bisa mengendalikan serangan antraknosa sampai 80 %. Ramuan tidak tahan lama dan masih bisa dipakai selagi aromanya masih khas. Apabila aromanya sudah berubah maka kemampuannya pun sudah menurun. Sebaiknya dibuat setiap kali kita akan memakai.

Sumber: alamtani.com

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Apa dan mengapa memilih mengkonsumsi Buah Organik

Organik, oh organik, begitu banyak yang membicarakannya belakangan ini, Namun apa sebenarnya yang dimaksud dengan organik?, memang banyak definisi dan pemaparan tentng ini. berikut ini salah satu referensi yang bisa dijadikan gambaran mengenai Bahan dalam hal ini buah organik.

Buah organik adalah produk pangan yang dihasilkan dari sistem pertanian organik yang menerapkan keseimbangan ekosistem secara terpadu, yaitu meminimalisir penggunaan zat kimia sintetis, pupuk non-organik, hingga bahan-bahan kimia lainnya, seperti pestisida, insektisida, dan lain-lain.

Selain membebaskan bahan pangan dari kandungan bahan kimia, pertanian organik juga membersihkan lahan dari zat-zat berbahaya. Untuk membuat pertanian organik, lahan harus terlebih dahulu dilepaskan dari paparan pestisida dan pupuk buatan selama minimal 5 tahun sebelum disebut lahan organik murni.

Buah-buahan organik yang dihasilkan dari lahan organik, memiliki kandungan gizi, vitamin, dan mineral yang lebih tinggi dibandingkan dengan buah-buahan konvensional (non-organik). Tomat, semangka, melon, jeruk, apel, anggur, dan lain-lainnya kini bisa dinikmati dan diambil manfaat gizinya secara utuh tanpa terkontaminasi residu racun-racun kimia. Cita rasanya pun lebih baik dari buah-buahan yang ditanam secara konvensional. Renyah, manis, dan menyehatkan tubuh.

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau

Kenali sayuran organik, untuk masa depan lebih baik

Sayuran organik merupakan komoditas hortikultura yang banyak diminati untuk dikembangkan pada  pertanian organik saat ini.  Keistimewaan dari sayuran organik adalah mengandung antioksidan 10-50 persen di atas sayuran nonorganik. Kandungan  nitrat  dalam  sayuran  dan  buah  organik  diketahui  25  persen  lebih rendah dari yang nonorganik.

Makanan/Sayuran organik adalah makanan yang dihasilkan dari pertanian organik, sebuah metode produksi berdasarkan prinsip-prinsip yang dimaksudkan untuk melindungi lingkungan mempertahankan keanekaragaman hayati dan menghormati siklus alam.

Istilah “organik” mengacu pada cara produk pertanian dibudidayakan dan diproses. Persyaratan khusus harus dipenuhi dan dipertahankan agar produk dapat diberi label “organik”.

Tanaman organik harus dipelihara di tanah yang aman, tidak dimodifikasi secara genetis dan harus selalu terpisah dari produk konvensional. Petani tidak diperbolehkan menggunakanpestisida sintetis, organisme hasil rekayasa genetika (GMO) dan pupuk buatan. Meski demikian, residu pestisida tanaman organik tidak selalu nol karena pestisida masih dapat masuk melalui angin, air atau tanah.

Agar mendapatkan label organik, sebuah produk makanan olahan harus mengandung paling sedikit 95% bahan organik bersertifikat.

Meskipun belum ada statistik, pertumbuhan konsumsi produk organik di negara kita kelihatannya tidak kalah dengan negara-negara maju seperti Kanada dan Amerika Serikat yang mencapai 20% lebih.

Lalu, apa keuntungan dari Sayuran Organik ini? berikut beberapa diantaranya:

1. Lebih enak, segar dan tidak cepat busuk
Sayuran organik rasanya lebih manis, renyah dan segar.  Hal ini disebabkan kandungan air dalam sayur tidak terlalu banyak. Selain itu, kandungan air yang sedikit dibandingkan dengan sayuran non organik membuat sayur organik ini lebih tahan lama dari proses pembusukan. Dan tentu saja alasan utamanya adalah karena makanan itu dihasilkan dengan sarana produksi alami. Makanan organik juga sering dijual secara lokal sehingga masih segar.

2. Lebih bergizi dan sehatMakanan organik tidak dibentuk menggunakan pupuk kimia, pestisida kimia serta bahan kimia lain sehingga tidak merugikan tubuh manusia. Susu organik memiliki 50-80% lebih banyak antioksidan yang mengurangi risiko tumor.

Beberapa studi menunjukkan bahwa buah dan sayuran organik (misalnya, beras, tomat, kubis, bawang dan selada organik) mengandung lebih banyak nutrisi seperti vitamin, magnesium, fosfor, zinc dan besi.

Sayuran organik memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi seperti kandungan mineral dibandingkan sayuran non organik. Sayuran yang ditanam secara organik memang sangat menyehatkan bagi tubuh.

3. Tidak mengandung zat kimia yang berbahaya bagi tubuh manusia
Manfaat sayuran organik ini untuk mencegah/mengurangi masuknya zat - zat kimia dari pupuk buatan maupun pestisida dalam sayuran ke tubuh.  Residu atau endapan dari zat kimia tadi bisa membahayakan dan menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker.

4. Menjaga kelestarian lingkungan
Dengan semakin bertambahnya berbagai pencemaran akhir - akhir ini membuat produksi bahan makanan secara organik telah membantu menjaga dan mengembalikan lingkungan dari polusi tanah, air dan udara sehingga menciptakan dunia yang aman bagi kehidupan generasi mendatang.

Sumber: Berbagai sumber

Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog ini.
Salam Hijau